Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Jaman Edan

Ronggowarsito, seorang pujangga akhir Jawa sekaligus santri Kyai Ageng Hasan Besari, pernah menulis tentang jaman edan. Sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Istilah itu kebetulan mengingatkan saya soal materi intensif bahasa Arab yang pernah diajarkan di kampus; sebuah cerita pendek. Menurut saya ceritanya agak konyol, tapi justru karena sifat konyol dan ghoiru mafhum-nya, cerita itu jadi pantas untuk menggambarkan keadaan jaman edan. Kira-kira demikian terjemahannya:

***

Konon di sebuah kota ada seorang Raja yang bijaksana. Ia memerintah rakyatnya dengan adil. Sang Raja punya menteri yang cerdas dan adil pula. Keduanya dicintai oleh rakyat. Di tengah kota ada sumur. Airnya segar. Seluruh penduduk kota minum dari air sumur itu lantaran tidak ada sumur lain di kota.

Suatu ketika, seorang penyihir singgah di kota tersebut. Ia membawa botol kecil berisi air. Sang penyihir berdiri di bibir sumur, sementara sumur itu dikelilingi oleh khalayak ramai. Sang penyihir berseru, “Aku akan meneteskan tujuh tetes air dari botol ini ke dalam sumur. Barangsiapa minum air sumur ini, ia akan menjadi gila atau mati.”

Di hari berikutnya, penduduk kota dilanda kehausan. Mereka pergi ke sumur dan minum airnya. Padahal sebelumnya mereka ketakutan karena kata-kata sang penyihir. Usai minum air sumur itu, tidak ada satupun penduduk yang mati, tapi semuanya menjadi gila.

Sang raja pun merasa kehausan, tapi ia takut menjadi gila atau mati. Demikian pula menterinya. Saat penduduk kota mendengar kabar bahwa raja dan menterinya belum minum air sumur, mereka berlarian ke jalan dan ke sudut-sudut kota seraya berseru, “Raja dan menteri kita sudah gila!”

Saat sore tiba, Raja mengetahui kelakuan rakyatnya. Ia pun mengundang mereka ke pelataran istana. Raja menitahkan agar ia diberi piala emas yang berisi air sumur. Rakyatpun bergegas memenuhinya dan mempersembahkannya kepada raja. Seketika itu pula sang raja menyambut piala dan minum airnya. Lalu ia berikan piala kepada menteri yang serta merta menghabiskan sisa airnya.

Usai menyaksikan peristiwa itu, rakyat pun kembali turun ke jalan. Kali ini mereka berseru, “Raja dan menteri kita sudah kembali waras!”

***

Siapa yang edan?

Entah. Barangkali orang yang kita nilai edan ternyata ialah yang waras dan justru kita yang edan.

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah, bi rahmatika ya arhamar-rahimeen.

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan ikutkan kami ke dalamnya dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan hindarkan kami darinya.”

Ilmu Sebagai Kesadaran

Suatu ketika, saat membaca al-Khusyu' fis-Shalat karya Ibnu Rajab al-Hanbali, perhatian saya terpaku pada pernyataan beliau bahwa tingkat kekhusyu'an seseorang dalam shalat berbanding lurus dengan tingkat pengetahuannya terhadap Allah SWT.

Pengetahuan tentang sifat-sifat-Nya, bahwa Allah SWT bersifat wujud, tak berawal dan tak berakhir, telah dibahas oleh ulama kalam atau tauhid. Al-Quran sendiri dalam surat al-Ikhlas secara gamblang menyatakan Allah itu Maha Esa, tunggal, tak beranak, tidak diperanak, dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat menyetarai-Nya.

Masalahnya hal-hal teoritis semacam itu dapat diketahui oleh semua orang yang membaca al-Quran, tak peduli ia muslim atau bukan. Banyak pengajar Islamic Studies yang menghafal al-Quran, dan barangkali, lebih tahu tentang tafsir daripada masyarakat awam. Padahal pengajar tersebut tidak beragama Islam, apalagi meyakini bahwa al-Quran itu wahyu Tuhan.

Lalu apakah mereka lebih khusyu' dalam shalat dibandingkan muslim yang awam? Pertanyaan ini rancu sebab mereka bukan muslim. Kalaupun jawabannya tidak, lalu pengetahuan macam apa yang dimaksud oleh Ibnu Rajab al-Hanbali?

Pengetahuan manusia dapat diperoleh melalui perantara indera dan akal. Dengan panca indera, manusia bisa tahu warna, bau, rasa, dan suara. Lewat akal, manusia bisa tahu bahwa 1+1=2, atau dua orang yang berbeda tidak mungkin berada di satu tempat dan waktu yang sama.

Tapi ada jenis pengetahuan lain, yang tidak diperoleh lewat indera maupun akal. Misalnya saat merasa dibohongi, manusia merasa kecewa. Ia tahu bahwa ia kecewa. Pengetahuannya bahwa ia kecewa tidak diketahui lewat indera maupun akal. Pengetahuan ini hadir tanpa perantara indera maupun akal. Ia serta merta tahu.

Pengetahuan jenis ini tidak sama dengan pengetahuan inderawi atau pengetahuan rasional. Dalam bahasa Arab tetap diistilahkan sebagai 'ilm, namun dalam bahasa Indonesia, barangkali lebih dekat pada makna kesadaran.

Kalau dikaitkan dengan pernyataan Ibnu Rajab, mungkin dapat dipahami bahwa tingkat kekhusyuan seseorang dalam shalat berbanding lurus dengan pengetahuannya terhadap Allah SWT, yaitu saat ia secara langsung menyadari bahwa Allah SWT ada dan sedang mengawasinya; begitu pula dengan kesadaran akan sifat-sifat-Nya.

Dengan kata lain, semakin tahu (baca: sadar) seseorang akan keberadaan dan sifat-sifat Allah SWT, maka semakin khusyu' pula ia dalam shalatnya.

Wallahu a'lam bis-shawab


---

Penjelasan yang lebih bersifat teknis dapat dirujuk pada konsep pengetahuan presensial (al-'ilm al-hudhuri) Mulla Sadra dan ilham menurut al-Ghazali.

Rasi

Angkasa selalu mempesona di malam hari. Taburan bintang-bintang yang menyusun garis tengah bimasakti, the Milky Way, bulan yang malu-malu memantulkan sinar matahari, hingga tirai cahaya langit yang tak mungkin ditemui di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Aurora, meskipun aku baru dapat menyaksikan keindahannya lewat gambar, tampaknya akan sangat mengagumkan bila ia benar-benar terbentang di hadapan mata.

Langit malam menyajikan berbagai teka-teki, juga menawarkan kedamaian. Barangkali seperti yang mungkin dioleh para Badui, atau umat manusia sebelum mengenal televisi. Dan malam ini, seakan kembali mengulang kebiasaan orang-orang kuno itu, kami beristirahat sembari menatap langit.

“Kau lihat itu?” Jarinya menunjuk ke atas.

“Ya, kenapa?”

“Apa yang kau lihat?”

“Bintang?” Jawabku tak yakin. Tidak mungkin ia bertanya tentang hal yang sudah jelas.

“Bukan itu maksudku. APA yang sedang kau lihat?”

“Mmm, oke… Titik-titik putih.”

“Kau tahu itu. Tapi ada orang yang menyebutnya rasi.”

Aquarius, Aries, Taurus, Scorpion, Gemini, aku tak hafal. Aku juga pernah mendengar orang menyebut Salib Selatan, atau Gubuk Penceng. Setiap daerah punya istilah masing-masing, yang juga berarti, zaman dahulu di mana saja orang memperhatikan langit.

“Unik ya. Padahal bintang itu cuma berupa titik. Orang-orang dahulu bisa menarik garis yang menghubungkan titik-titik itu.”

“Ya, bukan itu saja. Orang-orang Mesir kuno menggunakan rasi untuk meramal kapan akan terjadi banjir besar. Lalu mereka akan mempersiapkan tumbal untuk menenangkan dewa. Ada pula yang percaya, rasi menunjukkan watak dan karakter seseorang, bahkan nasib. Bagi mereka, titik-titik itu amat berarti.”

Orang-orang Arab yang berkelana di gurun hingga para pelaut yang berpetualang di samudera bergantung pada bintang untuk mengetahui arah. Tepatnya sebelum besi ajaib bernama magnet digunakan secara luas. Kebutuhan akan memahami letak bintang mendorong mereka untuk mengembangkan keterampilan membacanya, menandainya dengan nama, atau mengaitkannya dengan takdir. Orang-orang pra-modern menganggap diri mereka bagian tak terpisahkan dari alam.

“Tapi kepercayaan semacam itu sudah tidak lagi dipegang oleh kebanyakan orang. Berhasilnya akal membangun teknologi telah menyingkirkan hal-hal yang tak mungkin dinalar.”

“Ya, kau benar. Agama pun ada yang menghapus kepercayaan semacam itu dan menganggapnya sebagai takhayul. Sebab Tuhanlah satu-satunya Dzat yang berkuasa menentukan segala sesuatu di bumi.”

“Agama? Misalnya?”

“Islam. Ilmu astronomi yang tadinya dipelajari dari Yunani kemudian dipisahkan dari astrologi; ramalan-ramalan.” Lalu ia buru-buru menandaskan, “Tapi bukan perkara itu yang ingin aku katakan. Ada pelajaran yang mungkin bisa diambil dari mereka.”

“Apa itu?”

“Orang sepertimu pasti tahu istilah kosmos atau semesta. Alam adalah semesta yang agung, tempat Tuhan menyisipkan ‘jejak-jejak’-Nya. Kata ‘alam’ sendiri diserap dari bahasa Arab yang berarti ‘tanda’. Pun jangan lupa bahwa ada semesta lain yang lebih kecil, namun tak kalah rumit dan misterius: manusia.”

Aku pernah menemui istilah itu. Alam sebagai semesta besar atau makrokosmos, sedangkan manusia adalah mikrokosmos. Dan keduanya sebagai kosmos adalah tanda. Orang-orang Arab menyebut semesta dengan kata ‘alam’, sebab bagi mereka seluruh isi semesta adalah tanda-tanda keberadaan-Nya. Tapi… “Jadi kau mau bilang kalau alam dan manusia itu sama? Kemudian bintang, titik, rasi? Aku tidak paham.”

“Aku cuma mengandaikan kita sebagai musafir malam, menapaki lautan pasir yang seolah tak bertepi, di bawah kubah langit. Bagi kita, bintang adalah perumpamaan paling tepat untuk petunjuk.”

“Ya, bintang sebagai petunjuk. Aku sudah mendengarnya berkali-kali. Rasul pun mengibaratkan sahabatnya sebagai bintang untuk generasi kita.”

“Kau benar. Tapi yang kumaksud, bintang itu sendiri adalah tanda. Ia sama sekali tak berarti tanpa manusia, bahkan terkadang manusia pun tak menyadarinya. Musafir bisa tersesat.”

Ia berhenti sejenak. Lalu sambil menoleh ia bertanya, “Bilakah sang musafir tersesat?”

“Jika bintang itu tidak ada.”

“Tepat. Atau jika bintang itu ‘lenyap’ meskipun ia ada.”

“Maksudmu?”

“Saat keberadaannya sama saja dengan ketiadaannya. Misal, karena musafir itu tidak mampu membaca bintang.”

“Ah iya, bagi orang yang tidak terlatih, bintang hanyalah titik-titik putih yang tak bermakna. Mereka tidak menarik garis seperti rasi, atau bisa jadi membuat garis secara acak. Barangkali mereka juga tak mengenal nama-nama bintang.”

“Manusialah yang menafsirkan titik-titik itu,” ia menimpali. “Jika musafir itu kita, dan perjalanan sebagai metafora hidup ini, maka aku yakin dalam setiap kehidupan dan pengalaman pribadi masing-masing kita, terdapat bintang-bintang itu. Petunjuk, atau jejak-Nya.”

“Apa yang kau maksud adalah kitab suci dan utusan-utusan-Nya?”

“Bisa jadi, tapi mungkin juga lain. Ada kalanya kau merasa kalut, atau berprasangka bahwa Tuhan tidak pernah menuntunmu membuat pilihan-pilihan praktis, tentang situasi khusus yang kau hadapi, selain kaidah-kaidah umum yang tertera di kitab suci. Padahal Ia selalu ada dalam pengalaman pribadi kita, dan setiap kehidupan kita tak mungkin lepas dari-Nya.”

“Kitalah yang tak mampu membaca titik-titik itu.”

“Ya. Saat itu titik-titik putih itu tercerai-berai, tak satupun garis yang kita tarik mampu membuatnya dapat dimengerti. Atau barangkali yang lebih mengkhawatirkan lagi, bila kita tak dapat melihatnya.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan jika momen itu tiba?”

“Kenali sebabnya. Bisa jadi ego kita bersinar terlalu terang, menyilaukan mata dari cahaya lembut bintang. Kita lebih suka mendengar suara-suara kita sendiri, sibuk dengan keinginan dan hasrat yang menggebu. Kita tak lagi menyisihkan waktu untuk menyimak apa yang hendak disampaikan oleh Tuhan. Bintang-bintang itu selalu ada, kawan, tersebar dalam detik-detik yang kita lalui. Hanya saja mata kita sedang buta. Kita menulikan diri dari bisikan-bisikan ilahi.”

Redupkan nyalamu.
Rendahkan dirimu di hadapan-Nya.
Hanyutkan jiwamu dalam damai.

Optimisme Pasukan Thalut

Bani Israel saat itu sedang mengalami masa-masa yang menentukan. Yusa’ bin Nun atau yang disebut dengan Joshua dalam Bibel, panglima yang secara heroik memimpin Bani Israel menaklukkan tanah Kan’an, telah mangkat. Mereka mengadu kepada nabi mereka, yang dalam al-Quran tidak disebut namanya, tapi oleh Ibnu Katsir dinamakan Samuel. Mereka ingin sang Nabi memohon kepada Allah agar menunjuk salah seorang dari mereka untuk memimpin Bani Israel. Awalnya Nabi Samuel menolak. Ia hafal perangai Bani Israel yang kerap mengingkari kata-kata mereka sendiri [2:246]. Namun akhirnya Nabi Samuel mengiyakan pinta mereka. Allah pun menunjuk seorang penggembala bernama Thalut sebagai raja baru Israel [2:247].

Perjalanan Thalut tidak mulus. Bani Israel menyangkal Thalut sebagai raja. Mereka tak rela dipimpin oleh orang miskin dan bukan keturunan bangsawan. Untuk membungkam Bani Israel, Allah mendatangkan Tabut yang telah sekian lama hilang sebagai bukti, bahwa Thalut adalah pilihan-Nya [2:248].

Dan kini, setelah menyatukan Bani Israel, Thalut harus menghadapi ancaman dari kerajaan Jalut. Berangkatlah Thalut memimpin ekspedisi militer yang pasukannya terdiri dari orang-orang beriman. Di tengah perjalanan, saat melintasi sungai, Allah menguji pasukan Bani Israel dengan sebuah perintah. Barangsiapa yang meminum dari air sungai itu bukanlah termasuk dari pasukan Thalut, kecuali mereka yang minum sekedar membasahi kerongkongan. Kebanyakan pasukan Bani Israel melanggar perintah tersebut. Hanya sebagian kecil yang mentaatinya.

Belum lagi mereka mendekati medan pertempuran, keraguan mulai menghinggapi benak mereka. Pasalnya, pasukan Jalut terlampau banyak bila dibandingkan dengan pasukan Bani Israel. Kekuatan yang amat tidak berimbang antara kedua belah pihak membuatnya tidak pantas disebut sebagai pertempuran. Secara matematis hasilnya sudah dapat ditebak. Ini bukan pertempuran, tapi bunuh diri.

Tapi mereka yang benar-benar beriman membantah. Sudah banyak contoh, pasukan yang lebih sedikit mengalahkan yang lebih besar dengan izin Allah. Mereka yakin, selama mereka bersama Allah, selalu ada peluang. [2:249] Maka saat mereka tiba di medan perang dan berhadap-hadapan dengan Jalut, mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran dalam diri kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas orang-orang kafir.” [2:250]

Allah mengabulkan doa mereka dengan memenangkan Bani Israel atas pasukan Jalut. Tak hanya itu, Allah juga memberikan karunia lain. Peperangan melahirkan pahlawan-pahlawan baru. Dan kali ini, seorang gembala menumbangkan Jalut. Kelak, pemuda itu akan menggantikan Thalut dan mengawali masa-masa keemasan dalam sejarah Bani Israel; sebuah masa yang akan dirindukan dan dielu-elukan oleh setiap generasi Bani Israel hingga ribuan tahun kemudian. Anugerah itu adalah Daud [2:251].

Peperangan antara Thalut dan Jalut sebagaimana disampaikan oleh al-Quran memang tidak serinci dan selengkap buku-buku sejarah. Tapi itulah karakter al-Quran. Al-Quran tidak pernah memposisikan dirinya sebagai buku sejarah, melainkan kitab suci yang menjadi sumber petunjuk bagi kehidupan. Sehingga cerita yang tertera dalam al-Quran tidak diriwayatkan semata-mata untuk menyampaikan peristiwa itu sebagaimana adanya. Penggalan-penggalan sejarah disampaikan oleh al-Quran untuk diambil hikmahnya.

Menjelang peperangan, pasukan Thalut terbagi menjadi dua. Mereka yang tidak dapat menuntaskan ujian dari Tuhannya merasa gentar menghadapi tantangan di masa depan. Mereka pesimis sebab perhitungan mereka mengabarkan kekalahan. Karena yakin akan pikiran tersebut, mereka kalah, bahkan sebelum peperangan dimulai. Sementara orang-orang yang teguh menjaga keimanan mereka menunjukkan sikap yang bertolakbelakang. Perintah Allah mereka laksanakan dengan taat. Mereka yakin akan pertolongan Allah atas hamba-hamba-Nya. Dan bila Allah telah berkehendak, siapa yang mampu merintangi-Nya? Bagi kelompok kedua, peluang selalu terbuka.

Demi menjalankan perintah tersebut, mereka memohon agar dilimpahi kesabaran. Dalam konteks ini, kesabaran tidak dimaknai sebagai kesabaran yang pasif, seperti kesabaran saat menerima musibah. Bukan pula kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran untuk tidak melanggar perintah-Nya atau berbuat maksiat. Kesabaran dalam ayat ini adalah kesabaran jenis ketiga, yaitu kesabaran dalam melaksanakan perintah-Nya. Sehingga dapat dipahami bahwa sabar juga dapat menjadi sifat yang aktif, yang mendorong pada perbuatan.

Kemenangan yang dicapai oleh pasukan Thalut dimulai dengan keteguhan pasukannya untuk mentaati perintah Allah dan menahan diri dalam cobaan. Allah menguji orang-orang yang beriman [29:2-3]. Kesabaran untuk tidak melanggar perintah-Nya kemudian diikuti dengan kesabaran untuk menjalankan perintah-Nya. Pasukan Thalut melanjutkan perjalanan perang melawan Jalut meski mereka tahu jumlah kedua pasukan tidak berimbang. Sebab mereka yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman. Jika pun mereka kalah dalam pertempuran, Allah telah menjanjikan surga. Orang yang ikhlas tak pernah merugi.

Dalam kehidupan sehari-hari, cerita tersebut dapat kita ambil sebagai sebuah teladan. Untuk mencapai keberhasilan, setidaknya diperlukan sikap sabar, dalam artian menahan diri dari godaan dan fokus terhadap apa yang seharusnya dikerjakan. Percaya terhadap kemampuan diri sendiri juga dibutuhkan, dapat juga dipahami, bahwa kemampuan diri kita merupakan ‘uluran tangan’ Tuhan. Terlepas dari perdebatan klasik, apakah manusia bebas memilih atau terikat, tidak ada yang menyangkal bahwa kuasa Allah mampu mengatasi segalanya. Sehingga sikap menggantungkan diri kepada-Nya baru benar-benar bermakna apabila kita melakukan sesuatu, bukan saat kita berpangku tangan.


Wallahu a’lam bish shawab.

Mendung

Aku selalu suka bila hari gelap. Sebenarnya juga tak harus gelap, hanya tidak terang. Mendung lebih identik dengan suasana yang muram dan bisu. Temaram menggantikan cerah cerianya sang surya. Tapi bulan-bulan ini matahari terlampau terik, membakar. Orang-orang menggerutu. Mereka merindukan keteduhan.

Apakah mendung itu pertanda buruk? Hujan, misalnya. Saat ini ia ditunggu-tunggu oleh ribuan petani. Sawah-sawah telah mengering. Bendungan sudah terkuras. Harapan mereka gantungkan tinggi-tinggi di langit. Mendung bagi mereka adalah janji yang hendak terwujud. Semakin gelap awan yang bergulung-gulung, wajah mereka semakin cerah.

Tapi bagi orang lain, hujan itu merepotkan. Jalanan jadi becek dan kotor. Mobil dan motor musti dicuci setelah kehujanan. Jas hujan dan payung wajib menyertai dalam perjalanan. Acara tak dapat digelar di ruang terbuka. Kalaupun bisa, terkadang tenda yang dipasang masih meneteskan air di sana sini.

Ah, tak harus orang lain yang mengeluhkan hujan. Mereka yang pertama mengharapkannya, bisa jadi berbalik memusuhinya di kemudian hari. Petani akan protes bila hujan turun terlalu banyak, merendam sawah mereka yang mulai berwarna keemasan.

Aku jadi teringat cerita tentang seorang bijak bernama Lukman. Lantaran kebijaksanaan dan kesalehannya, Lukman mendapat penghargaan yang luar biasa: namanya diabadikan dalam kitab suci Al-Quran. Raja yang didebat oleh Nabi Ibrahim AS tak pernah disebutkan namanya dalam al-Quran. Perempuan yang menggoda Nabi Yusuf AS juga tak tercantum namanya dalam al-Quran. Apalagi suaminya, seorang pembesar di Mesir, hanya figuran dalam kisah yang sama. Ratu negeri Saba’ yang disurati oleh Nabi Sulaiman AS juga tak dikenal namanya. Sementara kata ‘Luqman’ disebutkan dua kali dalam al-Quran. Padahal tutur Ibnu Katsir, penafsir ulung itu, Lukman hanyalah budak hitam yang berbibir tebal.

Ah ya, sekian dulu tentang Lukman. Kita kembali ke paragraf sebelumnya.

Suatu ketika Lukman berjalan kaki menuntun keledai, sementara putranya mengendarai keledai yang ia tuntun. Orang yang melihat keduanya berkomentar, anak Lukman tak tahu diri. Bagaimana bisa ia naik keledai sementara ayahnya berjalan kaki. Mendengar komentar tersebut, Lukman dan putranya sepakat untuk berganti posisi. Kini Lukman menaiki keledai, sedang anaknya berjalan kaki. Perjalanan pun berlanjut.

Tak lama kemudian, orang lain yang melihat keduanya menyeletuk, Lukman orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Lukman pun menyuruh putranya untuk naik ke punggung keledai. Walhasil, keledai itu ditumpangi dua orang.

Tidak punya belas kasihan terhadap binatang, demikian kata orang saat berpapasan dengan Lukman. Hewan ringkih seperti keledai dimuati oleh dua orang sekaligus.

Lukman dan putranya turun dari keledai, berjalan kaki bersama-sama. Melihat keledai kosong dengan dua pemiliknya yang berjalan menuntun, orang mengatai Lukman dan putranya dungu; punya keledai tapi tidak memanfaatkannya.

Pelajaran moral yang bisa diambil: belilah kuda agar dapat dinaiki bersama-sama tanpa dikomentari orang.

Just joking, canda doang...

Kemauan manusia tak pernah selesai, selalu berubah. Mustahil bagi manusia untuk disetujui oleh semua orang. Jangankan seorang Lukman, Tuhan pun kerap diprotes. Mengapa harus ada kejahatan di muka bumi ini? Mengapa harus ada kesedihan? Mengapa tak Engkau atur saja dunia ini tanpa bencana? Bukankah Engkau Mahakuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang?

Ada yang menjawab, ada hikmah di balik setiap kehendak Tuhan. Hanya saja, terkadang manusia belum mampu memahami kebijaksanaan ilahi. Belum tentu apa yang menyenangkan itu baik. Kesenangan dan kebaikan bukan satu hal yang sama. Keduanya berbeda, seperti perbedaan antara keinginan dan kebutuhan.

Ada pula yang berkata, sebenarnya baik-buruk suatu kejadian tergantung pada manusia yang memaknainya. Satu kejadian yang sama pun bisa jadi disikapi berbeda oleh orang yang sama, di waktu yang berbeda. Misalnya, petani yang disebutkan di awal tulisan.

Kalau kata Spinoza, manusia itu cerewet; terlalu banyak menuntut Tuhan agar mau menuruti keinginannya. Apa yang menurut manusia tidak menyenangkan harus dihapus, kalau tidak, mereka enggan mengakui-Nya.

Itu kalau kita mau berkutat dalam penyebutan baik-buruk.

Tapi terkadang perdebatan seperti itu tidak banyak manfaatnya di kehidupan praktis. Kalaupun memang hal itu buruk, apa nasib yang musti disesali? Kalaupun itu baik, haruskah tenggelam dalam euforia? Keputusan harus diambil, langkah tak boleh berhenti. Sebab waktu tak pernah menunggu.

Bila musibah menimpa, seberat apapun beban yang ditanggung, kaki harus melangkah meski tertatih. Tak seperti ruang yang memberi kebebasan bergerak, waktu hanya memberi satu pilihan: maju. Barangkali itulah yang disebut kesabaran.

Sama halnya bila mendapat anugerah, tak ada waktu untuk larut dalam keindahan yang akan segera menjadi bagian dari sejarah. Sudah semestinya anugerah diterjemahkan menjadi masa depan yang lebih baik, sebagai wujud syukur.

Dan tentang mendung yang kini menggantung di langit kota ini, aku tak peduli; apakah ia muram atau teduh. Aku menikmatinya, sebagaimana hari-hari yang telah lalu.

Dibuai Kewajaran

Dulu ketika masih di pondok, setiap selesai shalat maghrib, bagian penerangan akan membacakan nama-nama santri yang sakit untuk didoakan bersama. Dalam kesempatan seperti itu, ada satu ungkapan yang tak pernah ketinggalan disebut "Kesehatan adalah mahkota yang tidak terlihat kecuali oleh orang-orang yang sakit."

Sekilas ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan adalah salah satu kenikmatan besar yang sering terlupakan. Namun sebenarnya ia mengisyaratkan makna yang lebih dalam. Ia menunjukkan tabiat manusia yang suka lalai.

Ada yang bilang, "Hanya orang-orang penting yang tahu kepentingan." Mengapa tidak semua orang mengetahui kepentingan?

Kepentingan atau nilai, sebagaimana halnya aksiden lain, tidak kasat mata. Ia tidak wujud dengan sendirinya, bahkan keberadaannya tergantung pada keberadaan 'inang' dan kadarnya ditentukan olehnya.

Ambil saja contoh: waktu. Semua orang sepakat, waktu adalah elemen dasar bagi wujud. Tapi nilai waktu itu sendiri terkadang bertambah lantaran variabel-variabel eksternal, seperti kompetisi. Semakin ketat kompetisi, semakin mahal pula nilai waktu. 1/1000 detik bisa saja menentukan kalah-menang dalam perlombaan formula satu. Padahal, bagi kebanyakan orang, 1/1000 detik adalah hal yang luar biasa wajar...

Begitu pula dengan kesehatan, misalnya. Kepentingannya baru disadari ketika sakit datang. Nilai helm ketika terjadi benturan, atau kecelakaan; sahabat, atau bahkan sekadar sapaan ringan yang sering dianggap angin lalu barangkali menjadi penghalau sepi. Namun nilai itu sendiri telah ada di sana sebelumnya, menunggu untuk disadari.

Ada yang bilang, cara terbaik untuk menyembunyikan rahasia adalah di tempat umum; di mana orang menganggap semuanya wajar. Tempat itu tak pernah diduga. Kepentingan, juga kerabat nilainya, tersembunyi di balik kewajaran-kewajaran tadi. Karena kewajaran seringkali dianggap batas bagi hal-hal 'remeh', nilai yang ia bawa juga kerap terabaikan. Ibarat orang berkacamata yang tak lagi menyadari keberadaan lensa di pelupuk matanya.

Bagi orang dewasa, hal-hal tersebut sangat wajar. Terlalu biasa untuk dipertanyakan. Berbeda halnya dengan anak kecil. Mereka belajar dengan cepat, karena mereka melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, dunia ini baru, dunia ini aneh, dunia ini menakjubkan. Keheranan dan keingintahuan menggedor-gedor benak mereka, 'memaksa' untuk bertanya.

Namun kata 'wajar' menghentikan segala keingintahuan. 'Wajar' menahan kita untuk menggali kembali nilai-nilai yang ada di sekitar kita, akan kepercayaan, tanggung jawab, keindahan, disiplin, hidup, dan penghambaan. Tujuan-tujuan dan motif berlalu bersama perbuatan, luruh dalam pusaran waktu, lalu lenyap ditelan fana...

...dan kita harus terbangun dari buaian 'wajar', menimbang langkah, karena penyesalan bersembunyi di akhir beberapa pilihan.

Murtad

Murtad. Wuih, itu status paling mengerikan bagi kita, umat Islam. Naudzubillah min dzalik. Semoga Allah Swt. selalu membimbing kita. [al-Fatihah: 6]

Eh, kok tiba-tiba bicara tentang murtad, Ada Apa Dengan Nggapriel? [AADN, yang ini—gak—mungkin jadi filem :D]

Setelah berpayah-payah mindahin blog ke account google yang baru, nggapriel jalan-jalan di Youtube. Video pertama, proses masuk Islamnya seorang perempuan setengah baya di Jepang. Lalu kepala sekolah di Amrik yang bersyahadat tak lama setelah kejadian 911. Trus saintis atheis [karena masalah keluarga] yang jadi muallaf.

Dan akhirnya nggapriel terhenti di dua video berikut:



Ironis memang. Padahal informasi yang diterima tidak benar. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci umat lain, Kristen atau Yahudi. Kalau boleh menyadur perkataannya Dr. Abdul Mu'thi Bayumi pas kuliah kemaren [ehm... ^^], intinya peperangan hanya dilakukan kepada mereka yang memerangi Islam. Itupun masih memperhitungkan etika [tidak boleh merobohkan tempat peribadatan, memotong pohon tanpa sebab, atau mencederai orang tua, perempuan dan anak-anak yang tak terlibat perang].

Dalam Islam, angkat senjata adalah opsi terakhir setelah tawaran damai [masuk Islam atau bayar jizyah]. Itu masih lebih baik dari Bush yang berprinsip "with us or against us". Dan peperangan dalam Islam tidak dilancarkan karena alasan agama. Israel misalnya, kita [umat Islam] tidak [seharusnya] membenci mereka karena mereka beragama Yahudi, tapi karena mereka merampas tanah Palestina dengan dalih kembali ke "Promised Land". Dan seterusnya ...

Jika mereka [non-muslim] tidak pernah memerangi kita, maka mereka pun mendapatkan hak yang sama sebagai tetangga, tak berbeda dengan tetangga muslim. Itu di lingkup pergaulan. Namun dalam akidah, tetaplah "bagiku agamaku dan bagimu agamamu".

Nah, sekarang ke video yang kedua ^^



Kalau menurut nggapriel sih, video pertama berpangkal dari kesalahan informasi yang kemudian menjadi dasar untuk mengambil keputusan. Atau bisa jadi tidak adanya orang yang mampu memuaskan rasa penasaran Dina. Sedang di video kedua, sang wanita mengakui tidak ada hubungan intens antara dirinya dan Allah Swt. [melalui ibadah]. Dan [lagi-lagi] tak ada ulama didekatnya saat ia mengalami guncangan mental yang hebat. Kalau disederhanakan lagi, kasus di video pertama bersumber dari wilayah akal, dan video kedua berasal dari hati.

Islam merupakan perpaduan dari akal dan hati. Iman harus didahului oleh akal. Setelah iman terbentuk, hati ikut memainkan peran selanjutnya [dalam Islam dan Ihsan]. Iman tanpa akal akan rapuh, dan iman tanpa hati akan hambar lalu pudar. Barangkali inilah sebab mengapa [tak jarang] ada muallaf yang imannya justru lebih kuat dari muslim turunan; mengapa mereka yang tak paham bahasa Arab bisa menikmati shalat dan bacaan al-Quran layaknya [dan bisa jadi lebih khusyuk dari] mereka yang paham bahasa Arab, al-Quran dan tafsirnya.

But anyway, tulisan ini cuman pendapat seorang nggapriel belaka. Barangkali anda punya pandangan lain?

[Semoga kedua video tersebut bisa jadi bahan renungan kita, dan kita selalu mensyukuri nikmat iman serta Islam]
اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

Wa'lLâhu a‘lam bi al-shawâb.

* Edited at 5 Dec '09: Added Wa'lLâhu a‘lam bi al-shawâb.


Amanat Kehidupan

Pas aku memandangi tanganku, sekilas pikiran usil mengusik. Kulit ini terdiri dari sel-sel hidup. Sel-sel tersebut menjalankan fungsinya sebagai dinding benteng pertama yang melindungi tubuh dari masuknya kuman dan bakteri. Di bawah kulit terdapat pembuluh, tempat lalu lalang darah. Darah merah bergerak membagikan nutrisi dan oksigen ke seluruh bagian tubuh. Darah putih menetralisir virus yang berhasil menyusup ke tubuh. Sementara keping darah dengan sigap menutup luka yang menganga. Menahan darah agar tidak terus mengucur. Peredaran mereka dipompa oleh jantung yang berdetak 24 jam kali tujuh hari seminggu. Tak ada kata libur, hingga ajal.

Semua proses tersebut berjalan di luar kontrol kita. Tanpa campur tangan kesadaran kita. Darah mengalir tanpa pernah kita komando. Kita tak bisa menyuruh lambung untuk tidak mencerna makanan. Kita juga tidak bisa memerintah kandung kemih untuk menahan urine seharian tanpa mengganggu aktivitas kita.

Mata kita, tangan, kaki, lambung terdiri dari sel-sel hidup. Mereka mempunyai kehidupan mereka sendiri. Mereka mempunyai rutinitas, tugas dan pekerjaan mereka sendiri. Mereka bergabung satu sama lain untuk membentuk jaringan. Jaringan berhubungan satu sama lain dalam organ. Dan organ bekerjasama dengan organ lain untuk menopang sebuah organisme.

Selama ini kita hanya memasok nutrisi pada tubuh agar sel-sel tersebut bisa bertahan hidup, berganti, tumbuh dan berkembang. Bahkan dalam tubuh kita pun terdapat siklus pendek kehidupan, yaitu kehidupan dan kematian sel.

Dengan kata lain, tubuh kita adalah kumpulan kehidupan yang berdiri sendiri. Dan itu bukan kita. Jika demikian halnya, lantas siapakah "kita"?

Kita bukan tubuh kita. Kita bukan mereka. Tubuh kita adalah jalinan biliunan kehidupan sel, dan kita adalah kehidupan yang berbeda. Itulah kita...

Kita adalah ruh yang menggerakkan organisme (baca:tubuh). Kita hidup dan difasilitasi oleh Tuhan dengan kesempurnaan tubuh manusia dan akal. Kita bebas menggunakan fasilitas tersebut, begitu juga konsekuensi yang akan kita raih.

Suatu saat, kita akan dimintai pertanggungjawaban. Organ-organ tersebut akan menjadi saksi atas perbuatan kita. Tangan kita bersaksi apa saja yang telah kita perbuat. Kaki kita akan bersaksi ke mana saja kita melangkah. Mata kita bersaksi apa saja yang telah kita lihat. Mulut kita bersaksi apa saja yang telah kita ucapkan. Lambung kita bersaksi apa saja yang telah kita telan.

Tubuh dan kehidupan ini adalah amanat.