Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Puasa yang Memanusiakan Manusia

Bulan ini umat Islam kembali memasuki masa ritual penyucian jiwa yang bersifat tahunan, yang bila terlaksana dengan sempurna, akan mengantarkan manusia kepada fitrahnya. Fitrah juga dapat diartikan saat manusia dapat mengenali kembali kedudukannya yang asali dalam alam sebagai khalifah dan hubungan antara dirinya dengan Tuhan, yaitu sebagai hamba. Lalu apa hubungan puasa yang mengajarkan pengendalian diri dengan fitrah?

Ibnu Sina, seorang filsuf muslim dan dokter legendaris di zamannya, membagi tingkatan jiwa menjadi tiga: Jiwa tumbuhan, jiwa hewani, dan jiwa manusia. Tingkatan yang paling rendah adalah tumbuhan, lalu disusul hewan. Jiwa manusia menempati urutan tertinggi. Walaupun manusia, hewan dan tumbuhan mempunyai sifat dan derajat yang berbeda, ketiganya sama -sama memiliki dorongan untuk hidup dan berkembang biak, atau dorongan seksual, juga kebutuhan untuk makan dan minum.

Bila kemudian direnungi dan ditilik dari segi akhlak, selagi hidup manusia dikuasai dorongan untuk kebutuhan-kebutuhan dasar itu semata, ia masih belum dapat membedakan dirinya dengan tumbuhan dan hewan. Ia belum menjadi manusia yang sebenarnya.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam Ghazali, teolog dan ulama multidisiplin yang digelari hujjatul Islam. Berangkat dari nilai-nilai yang diajarkan al-Quran, al-Ghazali berpendapat bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan-kecenderungan yang juga dimiliki oleh hewan. Ketidakmampuan manusia untuk mengendalikan kecenderungan tersebut, akan menghempaskan manusia pada tingkatan hewan.

Keserakahan misalnya, adalah keinginan untuk memiliki yang tak terkontrol. Dalam keseharian, keserakahan dapat mewujud sebagai kecurangan dalam jual-beli ataupun pencurian. Atau bila dihubungkan dengan alam, keserakahan menampakkan dirinya sebagai eksploitasi atas alam tanpa tanggung jawab sebagai khalifah; orientasi pada profit tanpa mempertimbangkan kelangsungannya untuk generasi yang akan datang.

Lalu apa yang membedakan manusia dari makhluk hidup lain?

Ibnu Sina menyebutnya jiwa rasional, dengan akal sebagai alatnya. Keberadaan akal memungkinkan manusia untuk menimbang perbuatan baik dan buruk. Oleh karena itu wajar apabila manusia dibebani dengan aturan-aturan moral. Sementara Imam al-Ghazali menyatakan bila manusia dapat mengendalikan kecenderungan hewani dalam dirinya, ia mungkin mencapai derajat para malaikat, tentu seraya menetapi sifat-sifat kemanusiaannya. Sebab bagaimanapun juga, manusia harus makan dan minum, berbeda dari malaikat.

Namun pengendalian diri saja tidak cukup untuk mengantarkan kepada fitrah. Puasa dalam mazhab fikih mensyaratkan niat, yang bahkan oleh mazhab Syafi'i dianggap sebagai rukun. Niatlah yang membedakan antara mandi biasa dengan mandi besar, antara wudhu dengan sekedar membasuh tangan dan kaki, juga antara diet dan puasa. Niat memberi makna baru pada pengendalian diri, bahwa ia dilakukan sebagai wujud pengakuan atas ketuhanan-Nya, sedang kepatuhan seorang hamba untuk berpuasa adalah bentuk kemauan untuk menundukkan ego diri di hadapan keagungan-Nya.

Dengan demikian, pengendalian diri yang diajarkan puasa menyelamatkan manusia dari tenggelam dalam sifat-sifat kebinatangannya. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan posisi yang lebih istimewa. Di samping itu, sisi penghambaan dalam puasa mengingatkan manusia bahwa setinggi apapun derajat yang ia miliki di antara para makhluk, manusia tetaplah hamba-Nya, dan sudah sepatutnya menundukkan ego di hadapan perintah-Nya.

Wallahu a'lam bisshawab.

Gagasan Sekularisasi Nurcholish Madjid

Ada dua gagasan Nurcholish Madjid yang kiranya perlu diangkat di sini: modernitas Islam dan sekularisasi. Kedua ide ini sebenarnya saling berkaitan.

Baginya modernitas adalah rasionalisasi. Dalam hal ini, ia membedakan antara rasionalitas dan rasionalisme. Sah-sah saja kan, bagi seorang pemikir untuk memiliki definisi tersendiri seperti pembedaan antara pluralitas dan pluralisme seperti yang digagas INSISTS, atau antara sekularisme dan sekularisasi yang juga dicetuskan oleh Nurcholish. Pembedaan yang terakhir ini nantinya akan memicu kontroversi.

Rasionalisme adalah paham yang mendewakan akal. Para penganut paham ini meyakini bahwa akal dapat menjangkau seluruh realitas, dan sebaliknya, seluruh realitas tercakup dalam lingkup akal. Artinya, segala sesuatu yang tidak rasional dinyatakan tidak wujud. Paham ini menurut Nurcholish bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab Islam juga mengenal dimensi metafisik dan entitas transenden. Oleh karena itu, Islam hanya menganjurkan rasionalitas, bukan rasionalisme. Akal dalam Islam memiliki kemampuan yang terbatas. Wahyu turun untuk melengkapi kelemahan akal. Jadi arti rasionalitas adalah upaya untuk memahami Islam sesuai dengan kadar kemampuan akal yang dimiliki oleh manusia. Karena keterbatasannya pula, ia harus bersikap rendah hati dengan tidak mengaku paling benar.

Suffix –sasi dalam sebuah kata biasanya menunjukkan proses. Kata rasionalisasi kerap kali diidentikkan dengan proses menuju rasionalisme. Tapi Nurcholish mengatakan bahwa rasionalisasi yang ia maksud adalah proses menuju rasionalitas. Rasionalisasi inilah yang memegang peran penting dalam proses sekularisasi.

Sekularisasi oleh Nurcholish dibedakan dari sekularisme. Jika sekularisme adalah pemisahan agama dari hal-hal yang bersifat duniawi, maka sekularisasi diartikan Nurcholish sebagai upaya untuk menduniawikan hal-hal yang duniawi dan mengukhrowikan hal-hal yang bersifat ukhrowi. Sekilas keduanya tampak mirip. Tak heran apabila ketika ide ini dicetuskan, banyak kritikan dilancarkan kepadanya. Nurcholish sendiri harus berkali-kali menulis artikel di media massa untuk menjelaskan maksud gagasannya.

Yang aku pahami melalui tulisan-tulisan itu, bahwa Nurcholish mengidentikkan sekularisasi dengan prinsip tauhid. Tauhid versi siapa? Ibnu Taimiyah. Memang terlihat rancu untuk mengaitkan sosok Ibnu Taimiyah dengan Nurcholish Majid. Belakangan ini, Ibnu Taimiyah lebih dikenal sebagai seorang tekstualis, dengan pengaruhnya terhadap gerakan Wahabisme di Saudi. Sementara Nurcholish adalah pengusung rasionalitas di dunia Islam kontemporer. Karena itu, menarik untuk diketahui, bagaimana cara Nurcholish menerapkan prinsip tauhid tersebut.

Cak Nur mengatakan bahwa sekularisasi yang ia gagas adalah upaya untuk menduniawikan hal-hal yang selama ini disakralkan selain Tuhan. Menurutnya, umat Islam tertinggal karena mandeknya ijtihad. Sebabnya terlalu banyak hal-hal yang ‘disucikan’ dan dianggap tabu untuk diutak-atik kembali. Padahal yang terbebas dari perubahan hanyalah Tuhan. Ide sekularisasi Nurcholish mendorong proses desakralisasi. Segala sesuatu selain Tuhan harus didesakralisasikan, baik yang berupa materi, maupun nilai. Sehingga wilayah yang ‘tabu’ untuk dibahas menjadi sempit sekaligus membuka lahan untuk ijtihad.

Kesimpulan Nurcholish memang terbuka untuk diperdebatkan, sebab bagi sebagian kalangan, baik sekularisasi maupun sekularisme memiliki dampak yang sama. Desakralisasi nilai akan membuka kembali pertanyaan tentang moralitas, misalnya. Atau jika dikaitkan dengan modernitas yang diusung Nurcholish, akan mempertegas unsur relativitas dalam ide-idenya.


[referensi]
Nurcholish Madjid. Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 1995.

Order within Chaos

[ Life doesn't work that way ]

Ada saatnya ketika kita sudah berusaha dengan keras, namun hasilnya tak seperti yang kita harapkan. Ada kalanya ketika rencana sudah tersusun dengan rapi, namun ia tak sesempurna itu di lapangan. Prakiraan, harapan yang berbuntut pada kekecewaan. Antara idealisme dan wujud praktis memang tak linear, setidaknya hubungan antara keduanya tak seruntut alur logika.

Memang merupakan kecenderungan alami bagi logika, untuk menuntut segala sesuatunya terjadi secara runtut, ibarat akal yang menaiki anak tangga satu per satu, berjalan dari satu premis ke premis selanjutnya. Logika menginginkan agar peristiwa-peristiwa itu tersusun dalam pola-pola yang teratur, sehingga mudah ia pahami dan ia ramalkan.

Gambaran otak akan kerja alam yang runtut, logis, dan pasti menemukan justifikasi dalam teori Newton tentang alam yang serba mekanistik. Peristiwa yang terjadi di dunia ini terikat dalam hubungan sebab-akibat yang ketat. Sebuah akibat hanya akan terjadi apabila sebabnya ada. Sebaliknya, bila sebab tersebut muncul, maka mau tak mau akibat itu musti ada. Gambaran Newton akan alam tidak sedikit pun menyisakan celah bagi kemungkinan, seolah-olah alam ini bekerja dengan hitungan matematis.

Di satu sisi, teori yang dikemukakan Newton merupakan kabar gembira bagi kalangan saintis. Sebab kegiatan-kegiatan saintifik memang ditujukan untuk menjelaskan fenomena-fenomena alam. Penjelasan yang telah dicapai selanjutnya digunakan untuk merekayasa alam demi kepentingan manusia. Untuk itulah dibutuhkan semacam optimisme, bahwa alam ini mengikuti sebuah pola yang teratur dan dapat dimengerti. Teori Newton memberikan jawaban yang afirmatif.

Sayangnya, manusia dalam konsepsi kausalitas semacam ini (deterministik), tidak mempunyai keistimewaan. Ia dipandang sebagai salah satu bagian alam yang tunduk pada hukum kausalitas yang universal. Manusia dengan kualitas emosi, perasaan, pikiran, dan kreativitasnya direduksi seperti benda mati, yang tak punya daya apa-apa selain mengikuti alur sebab-akibat.

Bagi Newton, dunia ini bagai arloji yang bekerja dengan sendirinya setelah dibuat.
'Pembuat arloji' tak lagi dibutuhkan karena alam dapat mengatur dirinya sendiri.

Namun belakangan ini konsepsi alam Newton yang mekanistik-beserta implikasinya pada takdir yang deterministik-mendapat tantangan serius. Pengamatan Heisenberg terhadap pergerakan bagian-bagian atom justru menunjukkan ketidakteraturan, acak; chaos. Hal ini berarti alam pada level subatomik—yang menjadi dasar bagi wujud yang lebih tinggi—tidak tunduk pada aturan-aturan yang dikonsepsikan oleh Newton. Keseragaman hubungan sebab-akibat yang tampak di 'permukaan' disebabkan kemungkinannya yang jauh lebih tinggi daripada kemungkinan-kemungkinan lain.

Logika yang selalu runtut tak dapat memahami chaos.

Penemuan terbaru itu menimbulkan pergeseran paradigma akan kerja alam, ditandai dengan lahirnya teori kuantum yang menggantikan mekanika Newton. Akibatnya, pandangan deterministik akan perbuatan manusia dan takdir tak lagi relevan. Oleh karena itu, perjalanan mulus logika tak selalu terwujud di alam fisik.

David Hume sebelumnya telah menggagas teori probabilitas. Hukum alam ternyata tak semutlak itu, ia hanya berkisar pada kemungkinan-kemungkinan. Manusia juga tak seperti robot yang kreativitasnya terbatas. Hume mendasarkan teorinya pada paham empirisisme yang menolak ide-ide bawaan akal (innate idea), termasuk kausalitas. Baginya, justru kausalitas itulah yang merupakan kesimpulan akal dari pengamatan-pengamatan terhadap kenyataan fisik yang ditangkap indera.

Tapi jauh sebelum Hume, Ghazali, sang teolog Asyariah yang hidup di awal abad ke-12 M, telah mengemukakan konsep takdir yang longgar. Sekilas Ghazali tampak pesimis terhadap kemungkinan kausalitas. Namun pada taraf tertentu, menurutnya akal dapat mengetahui hubungan antara sebab dan akibat. Hanya saja pengetahuan tersebut hanya berdasar pada kebiasaan ('adah). Belum tentu apa yang pernah terjadi di masa lalu akan terulang lagi, walaupun dalam kondisi yang sama. Akal tak bisa memastikan dengan mutlak apa yang akan terjadi di masa depan.

Pesimisme Ghazali terhadap kausalitas berbeda dari Hume yang membangun argumentasinya atas dasar empirisisme. Ghazali—sebagaimana teolog Asy'ariyah lain—ingin meneguhkan kekuasaan ketuhanan dalam hubungan kausalitas yang tidak mutlak. Sebab Allah Swt Yang Mahakuasa tidak tunduk pada konsepsi manusia akan kausalitas. Satu-satunya yang mutlak bagi Ghazali adalah kehendak Allah Swt itu sendiri.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa konsep kausalitas Ghazali merupakan upaya sintesis antara agama dan sains. Ia membangun optimisme dengan memperhitungkan realitas fisik dan keimanan.

Alam ini tak serapi yang Newton kira, dan hidup ini tak selalu logis.
Selalu ada kemungkinan-kemungkinan lain.

Lalu apakah kita harus menyerah untuk memahami alam?
Apakah kita harus berhenti berusaha?

Ketidakpastian itu terjadi karena kita memandang dari perspektif makhluk, yang tak diberi sebagian dari ilmu-Nya kecuali setitik saja. Bagi Allah Swt, ketidakpastian itu tidak ada. Sebab pertama, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, termasuk dari masa lalu makhluk hingga masa depannya. Sebab kedua, Ia adalah Yang Mahakuasa, tak ada satupun yang dapat merintangi kehendak-Nya. Kun fayakun.

Karena kita tak mengetahui dengan pasti masa depan, sebab prinsip deterministik ketat yang telah terbongkar dan sebab kita hanya makhluk, bukan Tuhan yang menguasai segalanya, maka sudah sepatutnya kita berusaha. Apapun yang menjadi kehendak-Nya nanti, sesungguhnya Allah Swt tidak akan sekalipun menzhalimi hamba-hamba-Nya.


So how does life work?
Keep calm and trust Allah.

Wallahu a'lam bishawab.

"(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).

Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)," [QS 53:38-42]

Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas ra., ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : "Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat :

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu.
Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu.
Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah.

Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu.

Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. Tirmidzi)

Meninjau Kembali 'Seven Habits'

Salah satu kelebihan manusia adalah ia dapat mengidentifikasi dirinya sendiri di antara pikiran-pikirannya. Ia bukan ide-ide yang ia pikirkan. Ia bukan perasaannya. Ia bukan keadaan atau lingkungan yang mengitarinya. Ia mampu menelaah dirinya sendiri sebagaimana seorang peneliti membedah katak di lab.

Dengan kemampuan tersebut, ia dapat memilih respon terhadap keadaan dan lingkungan. Ketika seseorang memukulnya, ia dapat memilih untuk diam atau balas memukul atau membuat pilihan lain. Ia dapat mengenali dan menimbang akibat-akibat yang lahir dari pilihan tersebut. Dari sana lahirlah tanggung jawab, kesadaran atas konsekuensi dari perbuatan yang ia lakukan.

Sounds familiar, huh?
Ya, itu konsep proaktifnya Stephen R. Covey, Seven Habits. Buku itu memang memugar pandangan para pembacanya. Dengan prinsip pertama tadi, ia mengajak kita untuk melucuti diri dari pengaruh-pengaruh lingkungan. Ia ingin meneguhkan kembali eksistensi manusia, terutama di tengah-tengah variabel lain di sekitarnya. Ia ingin membebaskan manusia dari kekangan-kekangan dunia luar, menegaskan bahwa manusia selalu dapat membuat pilihannya sendiri. Sangat humanis bukan?

Tapi buku itu sendiri ditulis bukan berdasarkan pandangan agama tertentu. Covey ingin agar buku tersebut dapat digunakan oleh berbagai kalangan, tak peduli apa latar belakang mereka. Hanya saja tak dapat dipungkiri, setiap cara pandang mempunyai konsekuensi masing-masing. ‘Netralitas’ yang dimaksud oleh Covey juga mewarnai ide-ide yang ia tawarkan. Ibarat warna-warna dalam spektrum, posisi ‘oranye’ yang dinyatakan oleh Covey berarti ia tidak merah, tapi juga tidak kuning. Ketika gagasan yang ia ajukan ditinjau kembali dari perspektif agama, dalam hal ini Islam, tentunya ada hal-hal yang perlu disesuaikan.

Barangkali ciri yang paling mencolok dalam buku Covey adalah sisi pragmatisnya. Memang Covey menekankan pentingnya integritas, bahwa empati bukan sekedar ekspresi-ekspresi dangkal yang ditampilkan melalui segaris senyum atau muka prihatin. Empati menurut Covey harus berasal dari dalam diri seseorang. Namun pertanyaannya, untuk apa empati tersebut?

Dalam hubungan antar manusia, Covey menggunakan prinsip P/PC; anda berbaik hati kepada orang lain, orang lain pun akan berbaik hati kepada anda. Dalam sebagian diskusi yang pernah saya perhatikan dengan kalangan ateis, mereka menyebutnya sebagai Golden Rule, peraturan emas. Anda akan mendapatkan apa yang anda berikan. Jangan memperlakukan orang lain dengan buruk bila anda tidak mau diperlakukan dengan cara serupa. Itu satu-satunya kode moral yang mereka akui.

Prinsip P/PC ini hanya berkisar antara manusia dan manusia. Bisa dibilang salah satu kerapuhan sistem ini terletak apabila reaksi yang diharapkan tidak sesuai dengan reaksi yang diberikan di kenyataannya. Setiap orang berbuat demi balasan yang bersifat duniawi, entah apapun itu balasannya. Namun bila harapan tersebut tak kunjung tiba, manusia akan dipaksa untuk bergantung pada kepercayaan semu.

Dari perspektif lain, prinsip itu dapat disebut pamrih. Islam tidak melarang pengikutnya untuk pamrih, akan tetapi mengarahkannya. Pamrih baru dibolehkan antara manusia dengan Tuhannya. Maksudnya, manusia dapat berbuat baik lalu mengharapkan balasan, berupa ridha-Nya yang disimbolkan dengan pahala dan surga. Itu juga sejenis pamrih bukan? Tapi jika konteksnya demikian, ia berubah menjadi ikhlas.

Dalam hubungan antar manusia, sebagaimana pandangannya terhadap hidup di dunia, Islam tidak memandangnya dalam perspektif sempit. Islam tidak memposisikannya semata-mata sebagai urusan dunia, atau membatasinya antara manusia dan manusia lain. Setiap perbuatan selalu berkaitan dengan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, konsep pergaulan dalam Islam menambahkan satu elemen lagi yang luput dari prinsip P/PC, spiritualitas. Tanpanya, pergaulan dan perbuatan manusia akan terhenti pada dimensi materi semata, terpisah dari Tuhan yang menciptakan-Nya.

Covey juga tidak menentukan pusat keamanan diri (personal security). Jika seseorang menetapkan keluarga sebagai pusat keamanan dirinya, ia akan benar-benar merasa gusar dan limbung apabila permasalahan menimpa keluarganya. Sementara orang lain dapat saja menentukan keadaan finansial, masa depan, atau kewibawaannya sebagai pusat keamanan diri. Tapi hal-hal tersebut bersifat fana, akan selalu berubah dan berganti. Tak ada yang bisa menjamin pusat keamanan dirinya benar-benar tak terancam.

Barangkali—salah satunya—karena itu, angka bunuh diri di negara seperti Amerika, juga angka penderita kelainan mental akibat depresi, tercatat sangat tinggi. Angka bunuh diri di Jepang juga melonjak tajam saat negeri tersebut dilanda krisis ekonomi dan banyak orang kehilangan pekerjaan (65,3% dari total angka bunuh diri). Sementara depresi masih menjadi sebab utama fenomena bunuh diri di Jepang.

Islam menggeser pusat kehidupan pengikutnya dari hal-hal yang bersifat duniawi kepada Tuhan yang abadi, ahistoris. Ia tidak terjamah oleh perubahan-perubahan sejarah. Ia aman dari kekacauan-kekacauan dan pergolakan dunia yang tak menentu. Yang lebih menarik tentunya, Ia merupakan Pencipta semesta dan Maha Kuasa. Keimanan akan keberadaan-Nya selalu memberikan harapan, menyuntikkan sebentuk kekuatan dalam diri hamba-hamba-Nya, karena bagi-Nya tidak ada yang mustahil. Dengan bekal tersebut, umat Islam mampu bertahan meskipun dalam keadaan yang amat sulit. Mereka yakin akan perubahan serta masa depan yang lebih baik.

Karena itu pula, doa bukanlah kalimat-kalimat kosong yang diucapkan saat mengeluh atau merasa tak berdaya. Doa adalah lambang keyakinan, bahwa Ia tak akan sekalipun menzhalimi hamba-hamba-Nya.

Selain itu, Covey setelah melucuti diri manusia dari atribut-atribut lingkungan, mengarahkan manusia untuk tunduk pada hukum sebab-akibat yang ia sebut dengan hukum alam. Manusia dapat memilih, tapi konsekuensinya tidak dapat ia tentukan. Yang menentukan adalah alam. Tidak ada yang ‘memaksa’ seseorang untuk berbuat baik atau mencegahnya berbuat buruk, selama ia merasa mampu menanggung akibat dari perbuatannya. Dan akibat-akibat itu akan berhenti menghantuinya saat hidupnya berakhir.

Sedangkan dalam Islam dikenal prinsip tauhid, tiada tuhan selain Allah Swt. Pada tahap permulaan, manusia melepaskan keyakinannya akan tuhan-tuhan yang palsu. Setelahnya, ia mengakui bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan yang nyata. Bagi seorang muslim, setelah prinsip proaktif, ia menundukkan dirinya dengan sukarela kepada Allah Swt, berikut aturan main yang telah Ia tetapkan. Hukum sebab-akibat, tidak hanya berkisar antara makhluk satu dengan makhluk lain, akan tetapi juga antara makhluk dengan Penciptanya. Apakah perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan Tuhan, ataukah tidak? Sebab-akibat sebuah perbuatan juga tidak terhenti pada dunia saja, akan tetapi berdampak jauh hingga akhirat. Hari kebangkitan, hari pembalasan, surga atau neraka.

Prinsip yang sejak pertama tertanam dalam ajaran Islam ini menjadi kendali moral yang efektif bagi mereka yang benar meyakininya. Kalaupun mereka merasa mampu menanggung akibat perbuatan buruk di dunia, mereka tidak akan dapat menahan pedihnya neraka. Jikapun perbuatan baik mereka tidak mendapat balasan yang setimpal di dunia, Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan perbuatan hamba-Nya di akhirat kelak.


Tanpa mengecilkan sumbangsih mereka, konsep-konsep pengembangan diri yang diajukan oleh non-muslim seperti Dale Carnegie, Stephen R. Covey dan sebagainya, perlu ditinjau dan dimodifikasi ulang bila diperlukan, terutama ditimbang melalui kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Bukan karena phobia terhadap produk-produk Barat, tapi faktor spiritualitas yang dimiliki Islam merupakan keunggulan dan identitas yang tak terpisahkan dari keimanan.

Di sisi lain, masih banyak ajaran Islam yang perlu untuk digali lebih jauh dan ditampilkan dalam kemasan baru, tanpa harus mengikuti konsep-konsep dari luar Islam. Wallahu a'lam bish-shawab.

Dibuai Kewajaran

Dulu ketika masih di pondok, setiap selesai shalat maghrib, bagian penerangan akan membacakan nama-nama santri yang sakit untuk didoakan bersama. Dalam kesempatan seperti itu, ada satu ungkapan yang tak pernah ketinggalan disebut "Kesehatan adalah mahkota yang tidak terlihat kecuali oleh orang-orang yang sakit."

Sekilas ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan adalah salah satu kenikmatan besar yang sering terlupakan. Namun sebenarnya ia mengisyaratkan makna yang lebih dalam. Ia menunjukkan tabiat manusia yang suka lalai.

Ada yang bilang, "Hanya orang-orang penting yang tahu kepentingan." Mengapa tidak semua orang mengetahui kepentingan?

Kepentingan atau nilai, sebagaimana halnya aksiden lain, tidak kasat mata. Ia tidak wujud dengan sendirinya, bahkan keberadaannya tergantung pada keberadaan 'inang' dan kadarnya ditentukan olehnya.

Ambil saja contoh: waktu. Semua orang sepakat, waktu adalah elemen dasar bagi wujud. Tapi nilai waktu itu sendiri terkadang bertambah lantaran variabel-variabel eksternal, seperti kompetisi. Semakin ketat kompetisi, semakin mahal pula nilai waktu. 1/1000 detik bisa saja menentukan kalah-menang dalam perlombaan formula satu. Padahal, bagi kebanyakan orang, 1/1000 detik adalah hal yang luar biasa wajar...

Begitu pula dengan kesehatan, misalnya. Kepentingannya baru disadari ketika sakit datang. Nilai helm ketika terjadi benturan, atau kecelakaan; sahabat, atau bahkan sekadar sapaan ringan yang sering dianggap angin lalu barangkali menjadi penghalau sepi. Namun nilai itu sendiri telah ada di sana sebelumnya, menunggu untuk disadari.

Ada yang bilang, cara terbaik untuk menyembunyikan rahasia adalah di tempat umum; di mana orang menganggap semuanya wajar. Tempat itu tak pernah diduga. Kepentingan, juga kerabat nilainya, tersembunyi di balik kewajaran-kewajaran tadi. Karena kewajaran seringkali dianggap batas bagi hal-hal 'remeh', nilai yang ia bawa juga kerap terabaikan. Ibarat orang berkacamata yang tak lagi menyadari keberadaan lensa di pelupuk matanya.

Bagi orang dewasa, hal-hal tersebut sangat wajar. Terlalu biasa untuk dipertanyakan. Berbeda halnya dengan anak kecil. Mereka belajar dengan cepat, karena mereka melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, dunia ini baru, dunia ini aneh, dunia ini menakjubkan. Keheranan dan keingintahuan menggedor-gedor benak mereka, 'memaksa' untuk bertanya.

Namun kata 'wajar' menghentikan segala keingintahuan. 'Wajar' menahan kita untuk menggali kembali nilai-nilai yang ada di sekitar kita, akan kepercayaan, tanggung jawab, keindahan, disiplin, hidup, dan penghambaan. Tujuan-tujuan dan motif berlalu bersama perbuatan, luruh dalam pusaran waktu, lalu lenyap ditelan fana...

...dan kita harus terbangun dari buaian 'wajar', menimbang langkah, karena penyesalan bersembunyi di akhir beberapa pilihan.

Menantang Asumsi

"Asumsi adalah jendela dunia Anda.
Sesekali bersihkanlah jendela tersebut,
atau cahaya tak akan dapat masuk."
[Your assumptions are your windows on the world.
Scrub them off every once in a while,
or the light won't come in.]
― Isaac Asimov

Kutipan di atas mengingatkan saya akan satu istilah yang digunakan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya yang tersohor, The Seven Habits of Highly Effective People. Istilah tersebut adalah paradigma. Oleh KBBI, paradigma diartikan sebagai kerangka berpikir. Untuk lebih jelasnya, Covey mengandaikan paradigma sebagai sebuah peta. Peta adalah model tiruan dari keadaan lapangan yang sesungguhnya. Bedanya, paradigma merupakan gambaran mental; gambaran yang terbentuk dalam pikiran kita, akan kehidupan yang kita jalani.

Sebagaimana sebuah peta, paradigma juga rentan terhadap pertanyaan kritis, seperti: Apakah paradigma tersebut telah sesuai dengan situasi yang sebenarnya?

Paradigma, cara pandang kita terhadap dunia, tersusun dari kesimpulan atas informasi-informasi yang kita terima dari dunia luar. Kesimpulan tersebut kemudian kita jadikan pijakan untuk berpikir dan menyikapi sesuatu. Masalahnya, banyak kesimpulan yang—tanpa kita sadari—kita terima begitu saja. Padahal ia baru merupakan dugaan, bukan sesuatu yang telah pasti kebenarannya. Kesimpulan itulah yang disebut dengan asumsi (KBBI daring: dugaan yang diterima sebagai dasar atau landasan berpikir karena dianggap benar).

Istilah lain yang berdekatan dengan asumsi adalah aksioma. Menurut KBBI daring (lagi :P), aksioma adalah pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian. Hal-hal yang bersifat aksiomatis [badîhiyyât] memang diterima kebenarannya dan dapat digunakan sebagai landasan berpikir serta menarik kesimpulan. Tapi masalahnya, apakah dasar yang kita gunakan dalam berpikir, memandang peristiwa yang terjadi di sekitar kita, atau menyikapi sesuatu, selalu merupakan aksioma?

Dalam proses berpikir manusia, dikenal dua macam sifat pengetahuan: badihy (aksiomatik), yaitu pengetahuan yang dicapai tanpa melalui proses penalaran; dan nazhary (teoritik), yaitu pengetahuan yang dicapai melalui proses penalaran.

Kesimpulan yang dicapai melalui penalaran paling tidak masuk dalam satu dari lima kategori: Pertama, ‘ilm, atau keyakinan yang tegas, sesuai dengan kenyataan dan mempunyai landasan yang kuat; kedua, zhann, atau keyakinan yang cenderung kuat terhadap salah satu kemungkinan yang mendekati kenyataan, tapi belum mencapai derajat yaqîn; ketiga, syakk, keyakinan yang berimbang antar kemungkinan benar-salah; keempat, wahm, lawan zhann atau keyakinan yang lemah terhadap sebuah kemungkinan; kelima, jahl, yaitu pengetahuan yang jazim akan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan [jahl murakkab]. Adapun ketiadaan pengetahuan [jahl basîth] tidak masuk dalam kategorisasi ini karena ia merupakan ketiadaan (ilmu) mutlak [bersifat ‘adamiyyah, nihil], sedang ketiadaan tak dapat dikelompokkan layaknya sifat yang wujud.

Tiga kriteria yang menjadi syarat kategori ‘ilm tadi dapat diubah menjadi pertanyaan dasar untuk menguji kembali asumsi kita.
Apakah kesimpulan tersebut punya landasan yang kuat?
Apakah kesimpulan tersebut sesuai dengan kenyataan?
Apakah kesimpulan tersebut kita yakini dengan tegas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak musti selalu diterapkan pada pernyataan-pernyataan abstrak, tapi juga terhadap peristiwa yang kita temui dalam keseharian.

Sebut saja, misalnya kita temui seorang teman yang selalu online di Facebook, padahal sudah dekat waktu ujian. Bagaimana penilaian kita akan peristiwa tersebut? Bagaimana kesimpulan kita akan perbuatan teman kita tadi? Apa yang akan kita lakukan sebagai teman yang peduli?

Atau kasus lain yang lebih dilematis: orang asing yang kita temui di tengah jalan, tiba-tiba sambil menunjukkan selembar resep dokter, ia mengaku kekurangan biaya untuk membeli obat dan memohon uluran tangan kita. Haruskah kita termakan bualan penipu tersebut? Ataukah kita harus mempercayai sosok malang tadi?

Namun bagaimanapun juga harus diakui, tidak semua peristiwa dapat diketahui dengan pasti penyebab atau kadar kebenarannya. Atau ada kalanya derajat ilm tidak diperlukan, seperti ketika kita tak sengaja mendengar rumor sepele tentang orang lain. Sepele dalam artian: jikapun kita mengetahuinya, pengetahuan tersebut tidak bermanfaat dan jikapun kita tidak mengetahuinya, ketidaktahuan kita tidak membahayakan [al-‘ilm bihi lâ yanfa‘ wa al-jahl bihi lâ yadhurr].

Dari pemaparan di atas, paling tidak kita tahu bahwa asumsi juga rentan. Namun sayang sekali, banyak yang terlanjur menerima asumsi begitu saja. Sehingga secara tak sadar, mereka menjauh dari kenyataan.


Challenge our own assumption?
Reality check ahead.

Permainan Kekuasaan

"Kekuasaan cenderung bersifat korup,
dan kekuasaan yang absolut, mutlak bersifat korup.
Orang-orang besar nyaris selalu merupakan orang-orang jahat."
[Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.
Great men are almost always bad men.]
Lord Acton, 1834-1902.

Demikian protes Lord Acton, seorang sejarawan dan aktivis moral, terhadap kekuasaan mutlak yang dimiliki oleh Paus dan Raja. Kekuasaan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa keduanya [Paus dan Raja] tidak mungkin melakukan kesalahan. Sebaliknya, dalam protes yang disampaikan melalui surat tersebut ia tuliskan, jika pun harus berasumsi, keduanya harus dicurigai, dan kecurigaan itu bertambah seiring dengan bertambahnya kekuasaan.

Ia menulis, "I cannot accept your canon that we are to judge Pope and King unlike other men, with a favourable presumption that they did no wrong. If there is any presumption it is the other way, against the holders of power, increasing as the power increases."

Namun apakah perkataan Acton yang saya kutip di atas benar adanya?
Bukankah Acton telah terjebak pada asumsinya sendiri?

Kekuasaan pada dasarnya merupakan alat atau sarana. Sebagaimana pisau dapur, ia bisa menjadi baik apabila digunakan dengan baik, dan sebaliknya menjadi buruk apabila tidak digunakan untuk cara yang tidak dibenarkan oleh moral.

Dalam kutipan singkat di atas, agaknya Acton berasumsi bahwa manusia cenderung menggunakan kekuasaan dengan tidak bijak. Padahal, manusia itu sendiri memiliki dua kecenderungan, baik dan buruk. Maka yang seharusnya disorot adalah manusia itu sendiri, bukan kekuasaan.

Cukuplah seorang pemimpin yang mau mengakui kesalahan, lalu mencoba memperbaikinya. Ya, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Sikap ideal itu telah dicontohkan oleh sahabat Abu Bakar RA, seperti yang tercermin dari pidato yang ia sampaikan ketika diangkat menjadi khalifah:
"Saudara-saudara, aku diangkat menjadi pemimpin bukan karena akulah yang terbaik di antara kalian. Untuk itu jika aku berbuat baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, tegurlah aku. Sifat jujur adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah pengkhianatan. 'Orang lemah' di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. 'Orang kuat' di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku."

Namun sayangnya, tipe-tipe pemimpin seperti khulafaurrasyidin seolah punah. Agaknya, kerenggangan yang terjadi antara manusia modern dan nilai-nilai moral-spiritual ikut andil dalam membentuk fenomena ini. Intrik-intrik politik serta kebusukan manusia ditutup-tutupi di balik layar, sementara sang aktor melenggang di panggung, di bawah sorotan lampu dan gemuruh tepuk tangan. Kemunafikan yang telah menjadi kewajaran. Tak salah bila Acton kemudian menekankan pada nafsu dan kecenderungan buruk manusia.

***

Haruskah kita menunggu hingga datangnya al-Mahdi untuk menjumpai pemimpin yang ideal?

Psikologi Bukan Alat Pembenaran

Manusia [eh, kita :D] merupakan makhluk yang menarik. Berbeda dengan alam sekitarnya, ia merupakan fenomena yang lebih kompleks dan rumit. Ketepatan hitungan matematis tak berlaku ketika membahasnya. Apalagi manusia memiliki jiwa atau ruh, sedang dalam al-Quran telah disebutkan "Dan mereka menanyaimu [Muhammad] tentang ruh, katakanlah: 'Ruh adalah [termasuk] urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit." [al-Isra:85] Tak heran apabila kemudian jiwa menjadi misteri yang memantik rasa penasaran saya.

Dalam psikologi, setiap orang punya alur motivasi masing-masing, tak terkecuali para kriminal. Di cerita Batman, misalnya, Ra's al-Ghul memandang bahwa kota Gotham sudah rusak, pembesarnya korup dan kejahatan merajalela [hmm, this outlook sounds familiar]. Karena itu, ia ingin menghancurkan Gotham. [duh -__-]

Motif Ra's al-Ghul sangat mungkin dipahami melalui sudut pandang kejiwaan. Walaupun harus diakui, secara logis pun motif Ra's al-Ghul memiliki kelemahan [generalisasi]. Tapi topik pembicaraan kali ini bukan antara benar-salah [logika] dan baik-buruk [moral], melainkan alur motif dan perbuatan Ra's al-Ghul itu sendiri. Dengan kata lain terdapat garis yang membedakan antara psikologi, logika, dan moral.

Namun bagaimana lebih jelasnya?

Di sini saya mencoba untuk meraba ciri dasar psikologi. Sebagaimana sains pada umumnya, psikologi mencoba untuk menjelaskan fenomena perilaku manusia dalam tataran hubungan antara sebab dan akibat [cause and effect].

Selain itu, sebagai salah satu cabang ilmu humaniora atau antropologi, psikologi mempelajari fenomena manusia apa adanya, mendekatinya sebagai das sein [peristiwa kongkrit/apa adanya], bukan das sollen [norma/sesuatu yang seharusnya].

Dari paragraf di atas, kita bisa pahami bahwa psikologi itu sendiri tidak mengandung dimensi aksiologis. Ia menggambarkan pola perilaku manusia. Namun ia tak memberitahu kita bagaimana perilaku manusia yang ideal. Ia tak mencontohkan bagaimana seharusnya seorang manusia bersikap dalam hidupnya, berikut keterkaitannya dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Karena itu, dalam prakteknya, antara penggunaan temuan psikologi dan standar ideal moralitas tak seharusnya dipisah.

Jadi, walaupun motif perbuatan seseorang bisa dipahami dalam kerangka psikologis, tapi baik-buruk dan benar-salahnya ditimbang melalui neraca yang berbeda. Bisa jadi bahasan tersebut berkaitan dengan aspek ontologi dan aksiologi filsafat, atau alternatifnya, yaitu agama.

Selanjutnya, topik ini dapat dikaitkan dengan posisi agama [dalam hal ini Islam], setidaknya dari dua hal: pertama, bahwa Islam telah menetapkan standar moralitas yang harus dipatuhi oleh para pemeluknya. Hal ini sesuai dengan fungsi al-Quran sendiri sebagai petunjuk [al-hudâ]; kedua, melalui gagasan Islamisasi pengetahuan yang diusung oleh al-Attas, berangkat dari keterpisahan [dikotomi] antara ilmu dan nilai yang terjadi karena perkembangan ilmu dalam lingkungan sekuler.

Sepertinya akan lebih asyik kalau masing-masing poin tersebut dibahas di tulisan tersendiri, heu. Sementara itu, barangkali pembaca punya kritik atau tambahan buat saya.

Terima kasih :)

"Jalan Buntu" Rekonsiliasi [2]

Lanjutan dari bagian pertama.

Muhammad Imarah mempertanyakan kesiapan Syiah untuk rekonsiliasi. Jika benar Syiah menganggap Sunni sebagai saudara seiman, mengapa mereka begitu getol men-syiah-kan Sunni? Mengapa Syiah tidak memperlakukan Sunni sebagaimana Syeikh Mahmud Syaltut mengakui beberapa madzhab fikih Syiah? Atau dalam contoh yang lebih mutakhir, Piagam Amman yang memuat pengakuan lebih dari 500 ulama Islam dari seluruh penjuru dunia (termasuk Syeikh Sayyid Thantawi, Wahbah Zuhaily, Yusuf Qaradhawi, juga beberapa perwakilan dari Indonesia) terhadap mazhab fikih Zaidiyyah, Ja’fariyyah, Ibadhiyyah, dan Zhahiriyyah di samping empat mazhab sunnah.

Kondisi lain yang harus dipenuhi untuk rekonsiliasi adalah menjauhi perbuatan yang menyakiti pihak lain. Selama Syiah masih belum berhenti mencaci sahabat, harmoni antara kedua pihak tak akan tercapai. Bagi Qaradawi ataupun Muhammad Imarah, sikap Syiah tersebut mencerminkan bahwa mereka masih belum bisa melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu. Kalaupun Syiah menganggap Abu Bakar ra., Umar ra., dan Utsman ra., telah merampas hak Ali ra. atas imamah, tak selayaknya Syiah mencaci mereka, namun tetap menghormati sebagaimana Sunni menghormati Ahlu Bait. Toh, cacian—yang sudah berlangsung berabad-abad—tidak menyelesaikan masalah sama sekali, kecuali memelihara sentimen terhadap golongan Sunni.

Akumulasi fenomena-fenomena di atas mengakibatkan pendirian Syiah dalam program rekonsiliasi terlihat ambigu. Ajakan rekonsiliasi dari pihak Syiah menjadi tidak efektif dan dicurigai sebagai bagian dari taqiyyah. Prinsip taqiyyah dipahami secara umum sebagai prinsip yang membolehkan Syiah untuk menyembunyikan akidah ataupun pendapatnya demi maslahat yang lebih besar, atau dalam bahasa lugas, berbohong. Prinsip ini bahkan juga boleh diterapkan atas saudaranya sesama muslim, atau dalam konteks tulisan ini, Sunni.

Namun dengan langsung menisbatkan kejadian-kejadian tersebut kepada taqiyyah agaknya terlalu tergesa-gesa. Sedang taqiyyah bukan hal yang mudah diketahui. Qaradawi sendiri mewanti-wanti agar tidak berburuksangka dengan melabeli perbuatan baik yang dilakukan Syiah sebagai taqiyyah. Namun berbaiksangka juga tak lebih dari prasangka, alias penafsiran terhadap fakta. Untuk membuktikan wacana rekonsiliasi sebagai taqiyyah dibutuhkan fakta yang menunjukkan dukungan pihak Syiah pro-rekonsiliasi terhadap upaya ekspansi Syiah di masyarakat Sunni.

Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, kemungkinan terjadinya kerjasama antar negara-negara Sunni dan Syiah tidak hanya bergantung pada proyek rekonsiliasi saja. Hubungan bilateral antar umat Islam dengan umat lain saja mungkin dilaksanakan, apalagi dengan sesama umat Islam. Paling tidak, kerjasama yang berdiri atas asas pragmatisme. Toh, sebab kekerasan atas nama agama tak bisa direduksi dalam lingkaran perbedaan akidah saja. Lagipula generalisasi stigma buruk atas semua orang Syiah atau Sunni juga tidak valid.

Perbedaan pagar antara furu’ dan ushul dalam akidah, taqiyyah, bayang-bayang masa lalu, konflik berdarah, juga keengganan Syiah untuk melangkah dalam koridor rekonsiliasi, menghantarkan pendukung gagasan ini kepada “jalan buntu”. Tapi untuk memvonis proyek ini sebagai ‘gagal’ dan ‘utopis’ agaknya masih terlalu dini. Perbedaan yang cukup dalam dan berlangsung berabad-abad tak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat. Kalaupun ada yang ingin mempererat antar ahlul qiblah dalam artian mengurangi saling curiga dan mengikis fanatisme, mengapa tidak?

"Jalan Buntu" Rekonsiliasi [1]

Proyek rekonsiliasi untuk mendamaikan Sunni dan Syiah sudah digagas sejak satu abad yang lalu. Tentunya mengurai perbedaan dan mendekatkan persepsi antara keduanya bukan perkara mudah. Hingga saat ini, keberadaan rekonsiliasi masih menjadi tanda tanya, sebagian mendukung dan sebagian menolak. Dengan melihat rentang waktu yang sudah dilalui gagasan rekonsiliasi dibandingkan capaiannya, dapat dipastikan beberapa hal yang mengganjal upaya pendekatan tersebut.

Hal pertama yang harus dijawab adalah maksud dari rekonsiliasi. Yusuf Qaradawi, salah satu promotor rekonsiliasi di kalangan Sunni sebagai misal, menolak upaya untuk melebur Sunni-Syiah ke dalam satu aliran. Baginya, upaya tersebut hanyalah angan-angan belaka. Lagipula keduanya merupakan paham akidah yang telah eksis berabad-abad dalam sejarah Islam.

Rekonsiliasi yang dimaksud Qaradawi adalah langkah untuk meminimalisir faktor-faktor yang memperlebar jurang silaturrahim, mengurangi kecurigaan, dan dendam antara umat Islam sendiri. Dengan definisi ini, “al-taqrîb” lebih dekat pada makna “al-ta’âyusy” atau koeksistensi (keadaan hidup berdampingan secara damai antara dua negara atau lebih yang berbeda atau bertentangan pandangan politiknya) atau rekonsiliasi (perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula atau perbuatan menyelesaikan perbedaan).

Namun sebagian kalangan memandang peluang rekonsiliasi dengan pesimis. Karena akidah merupakan salah satu pilar yang menopang kehidupan sosial umat Islam. Untuk itu, semanis apapun penyajian konsep rekonsiliasi antara Sunni-Syiah di dalam kehidupan sosial, ia mau tak mau harus menyinggung sisi akidah.

Dalam hemat penulis, perbedaan utama dalam akidah antara Sunni dan Syiah bukan hanya berada pada daerah ushul atau furu’, tapi juga pada kategorisasi ushul dan furu’ itu sendiri. Artinya jika rekonsiliasi hendak membidik pendekatan dalam tataran akidah, pembahasan mengenai dasar yang akan digunakan dalam kategorisasi furu’-ushul merupakan sebuah keniscayaan. Jika tidak, perdebatan akan selalu terbentur pada penolakan Sunni terhadap kewajiban Imamah yang merupakan konsep sentral dalam bangunan akidah Syiah.

Di sisi lain, capaian rekonsiliasi—yang digagas sejak pertengahan abad lalu—belum dapat dirasakan secara luas, seolah-olah ide ini belum mendapatkan bentuk praktis di lapangan selain wacana akademis. Langkah-langkah strategis yang diajukan oleh Ja’far Abdussalam, sekjen Liga Universitas Islam, seperti pengajaran lintas-madzhab yang obyektif, pemberdayaan media sebagai sarana sosialisasi, masih belum terlaksana dalam skala massif (disampaikan dalam Muktamar yang diselenggarakan oleh Dewan Rekonsiliasi antar Mazhab pada tahun 2011 di Teheran).

Lambatnya kemajuan rekonsiliasi mengundang sebuah pertanyaan, apakah Syiah benar-benar tulus dalam rekonsiliasi? Yusuf Qaradawi dan ulama Sunni lain mensyaratkan agar Syiah tidak lagi mencerca sahabat, namun fenomena tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Syarat lain adalah agar Syiah tidak menyebarkan keyakinannya di kalangan Sunni. Tapi lagi-lagi poin ini dilanggar.

Amir Sa’id memetakan gerakan Syiah di dunia Sunni selama beberapa dekade terakhir. Di Suria misalnya, hingga tahun 1995 hanya ada dua perkumpulan Syiah yang berdiri dari revolusi Iran. Namun lima tahun berikutnya, lima perkumpulan lain didirikan. Dalam rentang satu dekade setelahnya, ratusan kelompok kecil didirikan saat pemerintahan Basyar al-Asad. Pesatnya perkembangan dan aktivitas Syiah di Suriah menimbulkan keresahan di kalangan ulama Sunni.

Di Irak, situasinya jauh lebih rumit. Keadaan politik yang labil pasca jatuhnya Saddam Husein dimanfaatkan oleh Syiah untuk menyebarkan keyakinannya. Menurut pemaparan Harits al-Dhari, ketua Asosiasi Ulama Islam-Irak, dalam Konferensi Dukungan terhadap Ahlussunnah Irak yang digelar di Istanbul, milisi Syiah telah membunuh lebih dari 200.000 Sunni. Prosentase warga Syiah di Irak juga bertambah hingga mencapai 40-45% dari jumlah total warga Irak. Sebagai perbandingan, prosentase penganut paham Sunni di Irak sekitar 53%.

Berlanjut ke bagian dua.

Murtad

Murtad. Wuih, itu status paling mengerikan bagi kita, umat Islam. Naudzubillah min dzalik. Semoga Allah Swt. selalu membimbing kita. [al-Fatihah: 6]

Eh, kok tiba-tiba bicara tentang murtad, Ada Apa Dengan Nggapriel? [AADN, yang ini—gak—mungkin jadi filem :D]

Setelah berpayah-payah mindahin blog ke account google yang baru, nggapriel jalan-jalan di Youtube. Video pertama, proses masuk Islamnya seorang perempuan setengah baya di Jepang. Lalu kepala sekolah di Amrik yang bersyahadat tak lama setelah kejadian 911. Trus saintis atheis [karena masalah keluarga] yang jadi muallaf.

Dan akhirnya nggapriel terhenti di dua video berikut:



Ironis memang. Padahal informasi yang diterima tidak benar. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci umat lain, Kristen atau Yahudi. Kalau boleh menyadur perkataannya Dr. Abdul Mu'thi Bayumi pas kuliah kemaren [ehm... ^^], intinya peperangan hanya dilakukan kepada mereka yang memerangi Islam. Itupun masih memperhitungkan etika [tidak boleh merobohkan tempat peribadatan, memotong pohon tanpa sebab, atau mencederai orang tua, perempuan dan anak-anak yang tak terlibat perang].

Dalam Islam, angkat senjata adalah opsi terakhir setelah tawaran damai [masuk Islam atau bayar jizyah]. Itu masih lebih baik dari Bush yang berprinsip "with us or against us". Dan peperangan dalam Islam tidak dilancarkan karena alasan agama. Israel misalnya, kita [umat Islam] tidak [seharusnya] membenci mereka karena mereka beragama Yahudi, tapi karena mereka merampas tanah Palestina dengan dalih kembali ke "Promised Land". Dan seterusnya ...

Jika mereka [non-muslim] tidak pernah memerangi kita, maka mereka pun mendapatkan hak yang sama sebagai tetangga, tak berbeda dengan tetangga muslim. Itu di lingkup pergaulan. Namun dalam akidah, tetaplah "bagiku agamaku dan bagimu agamamu".

Nah, sekarang ke video yang kedua ^^



Kalau menurut nggapriel sih, video pertama berpangkal dari kesalahan informasi yang kemudian menjadi dasar untuk mengambil keputusan. Atau bisa jadi tidak adanya orang yang mampu memuaskan rasa penasaran Dina. Sedang di video kedua, sang wanita mengakui tidak ada hubungan intens antara dirinya dan Allah Swt. [melalui ibadah]. Dan [lagi-lagi] tak ada ulama didekatnya saat ia mengalami guncangan mental yang hebat. Kalau disederhanakan lagi, kasus di video pertama bersumber dari wilayah akal, dan video kedua berasal dari hati.

Islam merupakan perpaduan dari akal dan hati. Iman harus didahului oleh akal. Setelah iman terbentuk, hati ikut memainkan peran selanjutnya [dalam Islam dan Ihsan]. Iman tanpa akal akan rapuh, dan iman tanpa hati akan hambar lalu pudar. Barangkali inilah sebab mengapa [tak jarang] ada muallaf yang imannya justru lebih kuat dari muslim turunan; mengapa mereka yang tak paham bahasa Arab bisa menikmati shalat dan bacaan al-Quran layaknya [dan bisa jadi lebih khusyuk dari] mereka yang paham bahasa Arab, al-Quran dan tafsirnya.

But anyway, tulisan ini cuman pendapat seorang nggapriel belaka. Barangkali anda punya pandangan lain?

[Semoga kedua video tersebut bisa jadi bahan renungan kita, dan kita selalu mensyukuri nikmat iman serta Islam]
اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

Wa'lLâhu a‘lam bi al-shawâb.

* Edited at 5 Dec '09: Added Wa'lLâhu a‘lam bi al-shawâb.


Gempa Padang Ada di Quran? [bagian 2-habis]

DARI TAFSIR KE HIKMAH

Di posting sebelumnya, sudah kita bahas mengenai al-Quran dan sains [yang belum liat, baca dulu bagian pertamanya ya ^ ^ ]. Sekarang di tulisan ini akan kita bahas bagaimana hubungan antara jam gempa dan nomor ayat? Bisakah hubungan tersebut menjadi dasar bagi sebuah penafsiran? Masuk jenis tafsir apa?

Dari tulisan pertama, kita mengetahui bahwa sains akan selalu berkembang, dinamis. Gempa dan sains mempunyai karakter yang sama, keduanya akan terus ada dan berubah. Gempa adalah salah satu peristiwa alam, juga salah satu ayat kauniyyah [tanda kebesaran Allah Swt. di alam]. Dan gempa Padang bukan akhir dari rentetan gempa yang—telah, sedang [barangkali] dan bakal—menggoyang bumi.

Jika nomor ayat dikaitkan dengan jam gempa di Padang, maka akan muncul beberapa pertanyaan:

[1] Bagaimana halnya dengan gempa-gempa lain yang terjadi di jam yang sama, apakah ayat tersebut juga merujuk padanya?
[2] Bagaimana jika gempa terjadi jam 02:05 dini hari, sedang surat 2 ayat 5 tidak sedang membicarakan azab?
[3] Bagaimana halnya dengan ayat-ayat azab lain yang nomor ayatnya berkisar pada ratusan, apakah juga dapat dimaknai sebagai jam musibah?
[4] Apakah gempa-gempa susulan juga masuk dalam hitungan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menegaskan bahwa antara jam gempa dan nomor ayat tidak ada keterkaitan yang pasti. Karena itu sangat riskan apabila keduanya dihubung-hubungkan.

Kemungkinan lain, model penafsiran ini mungkin dibandingkan dengan kategori al-tafsîr al-isyârî al-‘ilmiy. Namun walaupun corak tafsir tersebut lebih bebas, tetap disyaratkan sebuah kepastian. Artinya, ayat tersebut memiliki penunjukan yang jelas bahwa arti yang dimaksud adalah gempa Padang. Namun keterkaitan pasti antara gempa dan nomor ayat—apalagi tafsir ayat—itu sendiri sangat meragukan. Sebagaimana ditunjukkan pertanyaan-pertanyaan di atas.

Selain al-tafsîr al-isyârî al-‘ilmiy, pembahasan i‘jâz yang mungkin dibandingkan dengan kasus ini adalah pemberitaan al-Quran tentang peristiwa yang bakal terjadi di masa depan [anbâ' al-mustaqbal]. Misalnya di surat al-Rûm ayat 2-6, al-Quran membicarakan perang antara Romawi dan Persia, dan di surat al-Fath ayat 27, al-Quran mengabarkan peristiwa penaklukan kota Mekah [fathu Makkah].

Surat al-Rûm ayat 2-6 turun setelah kerajaan Romawi dikalahkan oleh kerajaan Persia. Di ayat 3-4, al-Quran mengabarkan Romawi akan menang atas Persia beberapa tahun lagi. Pada ayat selanjutnya, Allah Swt. menjanjikan kemenangan bagi umat Islam di waktu yang sama.

Ketika ayat tersebut turun, keberhasilan Romawi membalas kekalahannya masih menjadi misteri. Begitu pula kemenangan macam apa yang dijanjikan Allah Swt. kepada umat Islam. Namun waktu kemudian menyibak rencana Allah Swt. Romawi mengalahkan Persia, dan umat Islam memenangkan perang Badar Kubra. Allah Swt. menepati janji-Nya di al-Quran.

Sedang surat al-Fath ayat 27 menceritakan penaklukkan kota Mekah [fathu Makkah]. Ayat tersebut menguatkan mimpi Rasulullah Saw. [di ayat tersebut disebut al-ru'yâ al-haqq] bahwa umat Islam akan menundukkan Makkah dan memasukinya dengan aman. Mimpi itu akhirnya terwujud tak lama setelah Qurays mengkhianati perjanjian Hudaibiyah.

Jika kita perhatikan, kedua kabar tersebut [al-Rûm: 2-6, dan al-Fath: 27], selain dibuktikan oleh kenyataan, juga dikuatkan oleh asbâb al-nuzûl dan deskripsi yang relatif rinci. Asbâb al-nuzûl al-Rûm: 2-6 berkaitan dengan perang antara Romawi dan Persia, juga janji kemenangan muslimin. Kata "al-Rûm" (Romawi) disebutkan dalam ayat dengan jelas. Sedang al-Fath: 27 turun berkaitan dengan perjanjian Hudaibiyah dan peristiwa bai'at al-Ridlwân. Di situ kata Masjidil Haram juga disebutkan dengan jelas. Sedang pada 'ramalan' gempa Padang, tak ada asbâb al-nuzûl atau nash lain yang mendukung penafsiran ini.

Tafsiran ini, di samping terlalu dipaksakan [takalluf], juga tidak ada keterkaitan antara sisi bahasa ayat, asbâb al-nuzûl, i‘jâz dan interpretasi [al-dalâlah, penunjukan]. Lagipula tidak ada nash lain yang mendukung dari sunnah Rasulullah Saw. Selain itu, penafsiran ini juga tidak dapat dikategorikan sebagai al-tafsîr al-isyârî al-‘ilmiy, tidak mengungkap i‘jâz ‘ilmiy dan bukan kabar masa depan yang dimaksud al-Quran.

Karena itu, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, —menurut hemat penulis dan tanpa mengurangi rasa hormat penulis terhadap ulama yang menyatakannya—penafsiran al-Isrâ' ayat 16 dan 58, juga al-Anfâl ayat 52 dengan gempa Padang [hanya] lantaran persamaan jam dan nomor ayat, adalah lemah dan tidak tepat.


Sebagai solusi, alangkah baiknya bila gempa Padang dijadikan i'tibar saja. Bahan pelajaran bagi kita; peringatan; hikmah. Bukan diposisikan sebagai tafsir. Dengan demikian, ayat tersebut akan jauh lebih bermanfaat, tanpa berspekulasi mempertaruhkan al-Quran dengan resiko negatif.

Akhirnya, tulisan ini hanyalah sebentuk 'ijtihad', hasil olah-pikir manusia yang bisa salah dan lupa. Tidak menutup kemungkinan adanya kritik dan masukan. Namun sampai muncul pendapat lain yang lebih argumentatif, penulis akan tetap memegang pendapat ini. Karena Islam tidak menganjurkan taklid buta.

Semoga bermanfaat!



Wa'lLâhu a‘lam bi al-shawâb...

Gempa Padang Ada di Quran? [bagian 1]

MEMPOSISIKAN AL-QURAN DAN SAINS

Beberapa waktu lalu kita dihenyakkan oleh gempa 7,6 SR yang menimpa Padang. Seolah-olah alam ingin menyadarkan kita, "Kalian itu kecil!" Dan memang sudah seharusnya kita kembali mengintrospeksi diri kita; mengambil hikmah, sebagaimana yang diajarkan al-Quran melalui ayat-ayat azab.

Namun ada seorang ulama yang mengatakan bahwa peristiwa gempa di Sumatera Barat itu sudah tercantum di al-Quran. Beliau mengaitkan antara jam gempa dan nomor ayat di Quran. Gempa di Padang terjadi pukul 17:16 WIB, kemudian gempa lain menyusul pukul 17:58 WIB. Tanggal 1 Oktober, gempa menggoncang Jambi pukul 08:52 WIB. Jika kita buka al-Quran surat 17 ayat 16, surat 17 ayat 58, dan surat 8 ayat 52, niscaya akan kita dapati keterangan tentang azab. [dari suaramedia.com]

Persamaan nomor ayat dan jam itu memang benar. Angkanya sama. Namun masalahnya, apakah al-Quran boleh dan pantas 'diperlakukan' seperti itu?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita membuka lagi satu kontroversi lain dalam ‘ulûm al-Qur'ân, yaitu tentang al-i‘jâz al-‘ilmî [segi i'jaz al-Quran yang bertalian dengan ilmu pengetahuan].

Al-Quran adalah kalamullah, sedang Allah Swt. Mahakuasa dan Maha Mengetahui [al-‘alîm]. Maka sebelum ‘ulûm al-Qur'ân terdefinisikan [seperti sekarang], para ulama berlomba-lomba menulis segala ilmu yang berkaitan dengan al-Quran. Topik pertama yang dituju adalah tafsir, dengan pertimbangan bahwa tafsir adalah tujuan mempelajari ‘ulûm al-Qur'ân. Selain tafsir, para ulama juga menulis ilmu-ilmu parsial yang mereka temui ketika menelaah al-Quran, seperti asbâb al-nuzûl, i‘râb al-Qur'ân, mubhamât al-Qur'ân, gharîb al-Qur'ân, dsb. Apalagi jika ‘ulûm al-hadîts digabungkan dalam ‘ulûm al-Qur'ân—sebab hadits adalah penjelas dan penyokong al-Quran—, pembahasan ‘ulûm al-Qur'ân akan jauh lebih luas.

Cabang-cabang pengetahuan itu tidak menutup kemungkinan akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Karena itu, kebesaran dan keagungan al-Quran, juga cakupan keilmuannya yang luas tak dapat disangkal lagi.

Nah, sekarang al-Quran juga menyinggung tentang alam semesta dalam ayat-ayat tertentu. Misalnya, surat Yasin ayat 36 membicarakan bahwa komponen dalam alam semesta diciptakan berpasangan, atau ayat lain yang membicarakan tentang orbit planet dan bulan. Bagaimanakah kita memposisikan ayat-ayat tersebut? Bagaimana kaitannya dengan sains modern?

Imam Zurqani menggarisbawahi bahwa ayat-ayat sains dan alam bukanlah objek utama dalam al-Quran. Karena ilmu akan selalu berkembang, sedang al-Quran sudah final. Teori ilmiah yang diyakini benar hari ini, belum tentu benar esok hari. Pendapat ini diiyakan oleh Manna' al-Qattan. Dengan mengutip pendapat Sayyid Quthb, Manna' al-Qattan mengatakan justifikasi sebuah penemuah ilmiah dengan ayat al-Quran beresiko sebagai berikut:

[1]  Merendahkan al-Quran dengan memposisikannya sebagai pembenaran atas penemuan sains. Dengan kata lain, al-Quran berkedudukan sebagai pembantu [baca: di bawah] sains. Padahal [sekali lagi] sains masih akan terus berkembang, sedang ayat al-Quran tak akan diwahyukan lagi. [Dampak perlakuan ini dijelaskan di poin kedua]
[2]  Konsekuensi buruk yang mungkin terjadi, setiap perubahan atas sains akan memaksa perubahan terhadap penafsiran al-Quran. Sedang perubahan penafsiran yang berulangkali terhadap kitab suci akan menjatuhkan kredibilitas kitab suci tersebut. Tengok saja bagaimana umat Kristen menuntut revolusi radikal terhadap konsep dasar kitab suci mereka, lantaran teori-teori ilmiah yang didukung oleh Bibel [dan otoritas gereja] runtuh.
[3]  Memandang al-Quran dengan pandangan yang tidak tepat. Al-Quran mendorong manusia agar memfungsikan akalnya agar dapat mengolah bumi; memanfaatkan hasil-hasilnya; menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi, bukannya malah mengiyakan mitos. Dan 'mendorong' tidak berarti 'menjelaskan'.

Dengan kata lain, resiko paling fatal adalah jika teori sains—yang dijustifikasi oleh ayat al-Quran—ternyata salah. Jika kebenaran teori sains tersebut runtuh, runtuh pula kesucian al-Quran.

Namun di sisi lain, Imam Zurqani tidak menafikan bahwa al-Quran mengandung isyarat akan ilmu pengetahuan modern. Hanya saja isyarat tersebut masih bersifat sekilas dan global. Karena ayat tersebut pada dasarnya dimuat guna mengajak manusia berpikir, tafakkur dan tadabbur. Dari perenungan inilah, diharapkan manusia dapat mengetahui, Allah Swt.-lah yang menciptakan alam seisinya.

Untuk lebih jelasnya, Imam Zurqani menukil beberapa catatan dari syekh Abdu'l ‘Azîz Jâwîsy [dengan perubahan, pen]:

[1]  Fungsi utama Al-Quran adalah sebagai kitab petunjuk. Walaupun al-Quran menyinggung sains, ekonomi, prinsip-prinsip sosial dan diungkapkan dengan bahasa sastra yang tak tertandingi, al-Quran tidak turun untuk menjelaskan semuanya secara rinci. Karena itu, al-Quran bukan buku sastra; al-Quran bukan buku pedoman sosial; al-Quran bukan catatan sejarah atau sains. Sekian banyak bidang tersebut hanyalah bagian dari al-Quran itu sendiri. Mengatakan al-Quran sebagai buku sastra atau buku hukum hanya akan mereduksi keagungan al-Quran. [lihat juga pembahasan mengenai kata 'Al-Quran' sebagai nama (al-‘alam)].
[2]  Saat al-Quran turun, banyak penduduk Hijaz dan sekitarnya yang menyembah benda-benda langit dan makhluk lainnya. Ayat-ayat 'sains' diturunkan untuk menjelaskan bahwa semua itu hanyalah ciptaan Allah Swt.
[3]  Ayat-ayat tersebut berfungsi memancing dan memotivasi manusia untuk memberdayakan akal-pikirannya. Hingga pada tingkatan tertentu, manusia akan mengakui kelemahan dirinya dan mengetahui siapa Tuhannya.

Dari beberapa poin di atas, bisa disimpulkan bahwa al-Quran memang memuat ayat yang 'berbau' sains. Namun tujuan ayat tersebut masih inheren dengan tujuan utama al-Quran, sebagai petunjuk. Selain itu, menurut hemat penulis, al-Quran dapat disertakan dalam sains yang tak diragukan lagi kebenarannya, seperti keberadaan bintang, adanya gunung. Sedang dalam teori yang [sedikit-banyak] masih bersifat spekulatif, sebaiknya al-Quran dijauhkan.


Lalu apa hubungannya dengan gempa tadi?
Temukan pembahasannya di tulisan bagian kedua ;)

'Ketuhanan' Tuhan

Dulu aku pernah baca tulisannya pak Hamid Zarkasyi tentang Tuhan. Beliau bercerita tentang pengalamannya kuliah di Birmingham. Ketika itu seseorang menanyainya, apakah Tuhan bisa menciptakan sesuatu yang Ia tidak bisa mengangkatnya? Pak Hamid menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, apa yang anda sebut dengan Tuhan? Pria itu meringis.

Pertanyaan serupa pernah aku dengar, dulu waktu aku masih sekolah di MIN [kalo ga salah]. Redaksinya macam-macam. Apakah Tuhan bisa menciptakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya? Apakah Tuhan bisa menciptakan sesuatu yang sangat berat sehingga Dia tidak bisa mengangkatnya? Dan lain-lain. Semua pertanyaan di atas intinya sama, ingin menjatuhkan Tuhan.

Nah, sekarang aku mencoba mengorek-ngorek jawaban pertanyaan itu.

Ada satu lagi pertanyaan yang unik, apa yang ada lebih dulu, ayam atau telur? Pertanyaan ini unik karena jawabannya tidak bisa dikatakan benar secara mutlak. Ayam berasal dari telur. Dan telur berasal dari ayam. Tidak ada yang benar, tapi juga tidak ada yang salah. Kalau jawabannya tidak bermasalah, berarti yang bermasalah adalah pertanyaannya.

Model pertanyaan 'ayam-telur' tadi menjebak. Menjawab 'ayam' atau 'telur' hasilnya sama saja. Kita akan tergiring pada daur dan tasalsul [ muter-muter ga ada ujungnya]. Ayam dan telur sama-sama diciptakan. Yang lebih dahulu ada adalah Tuhan yang menciptakan keduanya. Jadi ada opsi ketiga yang tidak dicantumkan dalam pertanyaan. Dan opsi itulah yang paling benar.

Nah, kembali ke pertanyaan pertama tentang Tuhan. Apakah Tuhan bisa menciptakan sesuatu yang lebih besar dari diri-Nya? Kalau kita jawab 'YA' karena Tuhan Mahakuasa, berarti ada sesuatu yang lebih besar dari Tuhan; berarti Tuhan bukan lagi Yang Mahabesar; berarti Tuhan bukan Tuhan. Kalau kita jawab 'TIDAK' karena Tuhan Mahabesar, berarti Tuhan bukan lagi Yang Mahakuasa; berarti Tuhan bukan Tuhan.

Pertanyaan yang menjebak. Baik kita jawab 'YA' atau 'TIDAK', hasilnya sama. Tuhan tidak lagi Maha Segalanya. Konsekuensinya, Tuhan bukan Tuhan dan [oleh karena itu] Tuhan tidak patut lagi disembah.

Permasalahan yang sebenarnya ada di pertanyaan tersebut. Pertanyaan "apakah Tuhan bisa menciptakan sesuatu yang lebih besar dari diri-Nya?", pada dasarnya berasal dari gambaran manusia tentang dirinya sendiri. Dan pertanyaan tersebut mengandung kesalahan yang amat mendasar, Tuhan disamakan dengan manusia.

Apakah sifat 'besar' Tuhan sama dengan 'besar'nya manusia? TIDAK. Laysa kamitslihi syai'un. 'Besar' manusia ditentukan dengan dimensi; panjang, lebar dan tinggi; luas, dan diukur dengan satuan. Sedang Tuhan? dimensi adalah ciptaan-Nya ...

Apakah Tuhan bisa menciptakan sesuatu yang sangat berat sehingga Tuhan tidak bisa mengangkatnya?

Apa itu 'berat' bagi Tuhan? Bagaimana Tuhan 'mengangkat'? Apakah gambaran 'berat' dan 'mengangkat' bagi Tuhan sama dengan gambaran keduanya bagi manusia?

Silahkan dijawab.[]