Showing posts with label Lamunan. Show all posts
Showing posts with label Lamunan. Show all posts

Dalam Diam

Bisu adalah guru
mengajarkan kejujuran laku
bukan kata-kata palsu

Sunyi bijak bestari
menyadarkan kefanaan diri
menuju yang-sejati

Dan
di tengah lelap keheningan
engkau terjaga

Antara “Aku” dan “Saya”

Sepertinya tidak ada perbedaan jauh antara kata “saya” dan “aku”. Keduanya menunjuk hal yang sama, yaitu diri orang yang sedang berbicara. Tapi dua kata tadi amat jelas berbeda, bukan dalam arti, tapi cara penggunaannya. Aku tak tahu persis, sebab bahasa bukan bidangku. Di blog ini saja, ada posting yang memakai “aku” sebagai kata ganti orang pertama. Kadang-kadang dapat ditemui kata “saya”.

Yang aku pahami, kata “saya” digunakan untuk membicarakan diri sendiri di hadapan orang lain. Dengan kata lain, yang menjadi objek pembicaraan adalah diri sendiri. Cara berbicara yang demikian membuat orang yang berbicara terlihat lebih sopan. Sebab ia terlihat sedang merendah. Ia mendudukkan dirinya sendiri sebagai objek.

Kata “aku” berkesan lebih angkuh. Sebab dengan kata tersebut, pembicara mendudukkan dirinya bukan sebagai objek yang dibicarakan, melainkan sebagai subjek yang berbicara, sementara lawan bicaranya harus mendengarkan. Barangkali karena itu, kata “aku” lebih sering digunakan ketika berbicara dengan diri sendiri. Rasanya justru aneh bila kata “saya” yang digunakan untuk berbicara dengan diri sendiri. Seolah-olah ada jarak yang memisahkan antara pembicara dengan dirinya sendiri, padahal tidak ada tuntutan sosial yang mengharuskannya berlaku demikian.

Saat menggunakan kata “saya”, seolah-olah pembicara sedang mengemas dirinya dalam sebuah kesan, dan ia ingin lawan bicara menilainya lewat kesan itu. Kata “aku” lebih memungkinkan pembicara untuk membicarakan dirinya sendiri sebagaimana ia berbicara kepada dirinya sendiri, bukan saat ada orang lain yang akan menilai dirinya. Jadi lebih sedikit tekanan atas diri pembicara untuk menyesuaikan dengan harapan dari dunia luar. Sehingga kata “aku” juga terkesan lebih bebas.

Ketika ada orang yang menggunakan kata “saya” saat berbicara, berarti lawan bicaranya sedang berdiri di luar batas-batas kehidupan pribadi sang pembicara. Lawan bicaranya sedang didudukkan dalam dunia yang obyektif dan disuguhi fakta-fakta “remeh”. Bukan “remeh” karena tidak penting, tapi informasi tersebut dapat diberikan begitu saja kepada semua orang yang berada dalam lingkaran pergaulan terluar dari sang pembicara.

Sementara dunia obyektif di sini tidak merujuk pada alam di luar diri manusia dan sama sekali lepas dari keberadaannya, tapi mengisyaratkan pada hal-hal yang menjadi irisan antar dunia subyektif masing-masing individu, atau lebih tepatnya: dunia intersubyektif. Pembicara dapat berkomentar tentang warna merah dari selembar kelopak bunga kepada siapa saja yang dapat menyaksikannya.

Berbeda dari kata “saya” yang terkesan resmi dan superfisial, kata “aku” seolah-olah mengajak lawan bicara untuk menyelami sisi terdalam dari pribadi pembicara. Penggunaan kata “aku” berarti ajakan pembicara kepada lawan bicara untuk mengetahui pengalaman-pengalaman pribadi yang tak diungkapkan kecuali kepada mereka yang berada dalam lingkaran pergaulan terdekat. Informasi ini biasanya sangat berharga, terutama bagi pribadi pembicara. Pada mode ini, pembicara dapat meluapkan kepada orang lain makna selembar kelopak bunga tadi bagi dirinya. Selamat datang di dunia subyektif sang pembicara. Pada kesempatan lain, kata “aku” juga dapat digunakan untuk membongkar sekat yang—hingga saat itu—terbangun antara pembicara dan lawan bicaranya. Dengan demikian keduanya dapat berbicara dengan lebih leluasa, terbuka dan apa adanya.

Yang terakhir, jika kata “saya” menggambarkan gagasan yang telah dikemas oleh pembicara, maka kata “aku” membuka peluang bagi lawan bicara untuk secara langsung “menyentuh” gagasan di pikiran pembicara dalam bentuk yang paling mentah. Lawan bicara bahkan dapat mengikuti alur pemikiran pembicara selangkah demi selangkah, sehingga lebih mudah dipahami.

Barangkali yang perlu aku insyafi, tidak semua orang menggunakannya dengan cara yang aku tuliskan. Lagipula ini cuma persepsiku belaka. Ya, aku.

Rindu

Adakah kau perhatikan,
kegelisahan yang mengamuk dalam jiwamu,
atau kepanikan yang mengepung
saat hidup tiba-tiba mengejutkan.

Adakah kau rasakan,
kebingungan yang menghantui malam-malammu,
atau ketidakberdayaan yang melumpuhkan.

Jiwamu yang lepas dalam pengembaraannya
ingin menyusuri tapak-tapak
yang akan membawanya pulang.

Dengarkan jiwamu berbicara,
ia tengah merindu...

Mendung

Aku selalu suka bila hari gelap. Sebenarnya juga tak harus gelap, hanya tidak terang. Mendung lebih identik dengan suasana yang muram dan bisu. Temaram menggantikan cerah cerianya sang surya. Tapi bulan-bulan ini matahari terlampau terik, membakar. Orang-orang menggerutu. Mereka merindukan keteduhan.

Apakah mendung itu pertanda buruk? Hujan, misalnya. Saat ini ia ditunggu-tunggu oleh ribuan petani. Sawah-sawah telah mengering. Bendungan sudah terkuras. Harapan mereka gantungkan tinggi-tinggi di langit. Mendung bagi mereka adalah janji yang hendak terwujud. Semakin gelap awan yang bergulung-gulung, wajah mereka semakin cerah.

Tapi bagi orang lain, hujan itu merepotkan. Jalanan jadi becek dan kotor. Mobil dan motor musti dicuci setelah kehujanan. Jas hujan dan payung wajib menyertai dalam perjalanan. Acara tak dapat digelar di ruang terbuka. Kalaupun bisa, terkadang tenda yang dipasang masih meneteskan air di sana sini.

Ah, tak harus orang lain yang mengeluhkan hujan. Mereka yang pertama mengharapkannya, bisa jadi berbalik memusuhinya di kemudian hari. Petani akan protes bila hujan turun terlalu banyak, merendam sawah mereka yang mulai berwarna keemasan.

Aku jadi teringat cerita tentang seorang bijak bernama Lukman. Lantaran kebijaksanaan dan kesalehannya, Lukman mendapat penghargaan yang luar biasa: namanya diabadikan dalam kitab suci Al-Quran. Raja yang didebat oleh Nabi Ibrahim AS tak pernah disebutkan namanya dalam al-Quran. Perempuan yang menggoda Nabi Yusuf AS juga tak tercantum namanya dalam al-Quran. Apalagi suaminya, seorang pembesar di Mesir, hanya figuran dalam kisah yang sama. Ratu negeri Saba’ yang disurati oleh Nabi Sulaiman AS juga tak dikenal namanya. Sementara kata ‘Luqman’ disebutkan dua kali dalam al-Quran. Padahal tutur Ibnu Katsir, penafsir ulung itu, Lukman hanyalah budak hitam yang berbibir tebal.

Ah ya, sekian dulu tentang Lukman. Kita kembali ke paragraf sebelumnya.

Suatu ketika Lukman berjalan kaki menuntun keledai, sementara putranya mengendarai keledai yang ia tuntun. Orang yang melihat keduanya berkomentar, anak Lukman tak tahu diri. Bagaimana bisa ia naik keledai sementara ayahnya berjalan kaki. Mendengar komentar tersebut, Lukman dan putranya sepakat untuk berganti posisi. Kini Lukman menaiki keledai, sedang anaknya berjalan kaki. Perjalanan pun berlanjut.

Tak lama kemudian, orang lain yang melihat keduanya menyeletuk, Lukman orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Lukman pun menyuruh putranya untuk naik ke punggung keledai. Walhasil, keledai itu ditumpangi dua orang.

Tidak punya belas kasihan terhadap binatang, demikian kata orang saat berpapasan dengan Lukman. Hewan ringkih seperti keledai dimuati oleh dua orang sekaligus.

Lukman dan putranya turun dari keledai, berjalan kaki bersama-sama. Melihat keledai kosong dengan dua pemiliknya yang berjalan menuntun, orang mengatai Lukman dan putranya dungu; punya keledai tapi tidak memanfaatkannya.

Pelajaran moral yang bisa diambil: belilah kuda agar dapat dinaiki bersama-sama tanpa dikomentari orang.

Just joking, canda doang...

Kemauan manusia tak pernah selesai, selalu berubah. Mustahil bagi manusia untuk disetujui oleh semua orang. Jangankan seorang Lukman, Tuhan pun kerap diprotes. Mengapa harus ada kejahatan di muka bumi ini? Mengapa harus ada kesedihan? Mengapa tak Engkau atur saja dunia ini tanpa bencana? Bukankah Engkau Mahakuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang?

Ada yang menjawab, ada hikmah di balik setiap kehendak Tuhan. Hanya saja, terkadang manusia belum mampu memahami kebijaksanaan ilahi. Belum tentu apa yang menyenangkan itu baik. Kesenangan dan kebaikan bukan satu hal yang sama. Keduanya berbeda, seperti perbedaan antara keinginan dan kebutuhan.

Ada pula yang berkata, sebenarnya baik-buruk suatu kejadian tergantung pada manusia yang memaknainya. Satu kejadian yang sama pun bisa jadi disikapi berbeda oleh orang yang sama, di waktu yang berbeda. Misalnya, petani yang disebutkan di awal tulisan.

Kalau kata Spinoza, manusia itu cerewet; terlalu banyak menuntut Tuhan agar mau menuruti keinginannya. Apa yang menurut manusia tidak menyenangkan harus dihapus, kalau tidak, mereka enggan mengakui-Nya.

Itu kalau kita mau berkutat dalam penyebutan baik-buruk.

Tapi terkadang perdebatan seperti itu tidak banyak manfaatnya di kehidupan praktis. Kalaupun memang hal itu buruk, apa nasib yang musti disesali? Kalaupun itu baik, haruskah tenggelam dalam euforia? Keputusan harus diambil, langkah tak boleh berhenti. Sebab waktu tak pernah menunggu.

Bila musibah menimpa, seberat apapun beban yang ditanggung, kaki harus melangkah meski tertatih. Tak seperti ruang yang memberi kebebasan bergerak, waktu hanya memberi satu pilihan: maju. Barangkali itulah yang disebut kesabaran.

Sama halnya bila mendapat anugerah, tak ada waktu untuk larut dalam keindahan yang akan segera menjadi bagian dari sejarah. Sudah semestinya anugerah diterjemahkan menjadi masa depan yang lebih baik, sebagai wujud syukur.

Dan tentang mendung yang kini menggantung di langit kota ini, aku tak peduli; apakah ia muram atau teduh. Aku menikmatinya, sebagaimana hari-hari yang telah lalu.

Keseimbangan

Mobil yang kutumpangi menerobos gelap malam. Lampunya terang menyorot aspal yang mulus. Iseng saja terlintas di benakku, bagaimana orang-orang dahulu melintasi perjalanan malam. Mereka tak bisa bersandar pada kursi empuk yang nyaman, sembari menikmati sejuknya AC. Aku juga tak dapat membayangkan bagaimana mereka mengamankan diri dari binatang buas yang berkeliaran di malam hari, saat mereka beristirahat. Ya, aku tak dapat merasakannya karena saat ini aku hidup dalam waktu yang berbeda. Ada teknologi yang memanjakan.

Jika terjadi pertempuran antara Amerika dengan pasukan Romawi, barangkali pertempuran itu akan berakhir dalam hitungan jam. Peperangan bukan perkara menyapu habis seluruh personel lawan, tapi juga adu strategi dan perhitungan teknologi. Dinding Konstantinopel yang tebal tak mungkin ditembus dengan infanteri biasa. Apalagi di belakangnya terdapat manjanik, ketapel-ketapel raksasa yang siap melontarkan batu-batu besar. Mungkin mirip dengan salah satu adegan dalam film The Lord of the Rings; saat Gandalf mempertahankan kota Minas Tirith dari gempuran tentara Saruman.

Konstantinopel baru jatuh di tangan dinasti Utsmani dalam pengepungan antara 6 April-29 Mei 1453, salah satunya berkat meriam-meriam raksasa yang sanggup menembakkan proyektil 250 kilogram sejauh satu setengah kilometer. Menakjubkan… setidaknya untuk saat itu.

Sedang Amerika? Bom atom, cukup.

Superioritas yang dijanjikan oleh teknologi ternyata tidak gratis. Kekuatan yang tak terkontrol cenderung menghancurkan. Kontrol. Siapa yang mengira, bom atom seperti yang dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima; yang membunuh 200.000 orang, ternyata dapat dijinakkan berkat teknologi. Dari senjata pembunuh massal berubah menjadi pembangkit listrik yang dapat menghasilkan energi yang jauh lebih besar dari air, panel surya, angin, atau sumber-sumber alami lainnya.

High risk high gain, demikian jargon yang dikenal dalam dunia ekonomi. Atau kalau mau mengikuti perspektif yang kurang positif, ia dapat dibalik, high gain high risk. Tenaga nuklir dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik dengan syarat, selama stabilitas intinya terjaga. Tragedi Chernobyl yang terjadi pada 26 April 1986 barangkali merupakan cermin terbaik prinsip ini. Kesalahan menjalankan prosedur mengakibatkan reaktor nuklir milik Soviet itu meledak.

Para petugas yang memadamkan kobaran api terpapar radiasi yang amat kuat. Belasan dari mereka bahkan meninggal hanya dalam tempo dua minggu setelahnya. Puluhan sisanya terjangkit kanker, katarak, atau penyakit lain yang disebabkan oleh radiasi.

Sekitar 50.000 penduduk kota Pripyat, tempat reaktor tersebut, dievakuasi ke kota-kota terdekat. Pemerintah Soviet pada mulanya menjanjikan para pengungsi dapat kembali ke tempat tinggal masing-masing setelah tiga hari. Tapi radiasi nuklir tak hilang hingga puluhan tahun. Para pengungsi tersebut tak pernah pulang… dan Pripyat menjadi kota mati, tak berpenghuni, hingga kini.

Lain halnya dengan mobil balap macam Ferrari yang ditunggangi Schumacher. Kecepatan mobil harus diimbangi dengan grip (daya lekat mobil ke permukaan jalan) yang baik. Grip berfungsi sebagai kontrol. Tanpa grip yang cukup mobil akan melayang, susah dikendalikan. Sekilas memang remeh, tapi jika kita berbicara tentang jenis mobil yang rekor kecepatannya 360 km/jam, kurangnya kontrol berakibat fatal. Mematikan.

Gambarannya? Ayrton Senna.

Juara dunia tiga kali itu meninggal pada 1 Mei 1994 karena kecelakaan saat balapan di Imola, Italia. Di sebuah tikungan, mobil yang ia kendarai keluar dari lintasan dengan kecepatan 310 km/jam. Senna berusaha mengerem, menghentikan lajunya, tapi ia tak mampu. Dalam waktu kurang dari dua detik, mobil itu menghantam dinding lintasan dengan kecepatan 218 km/jam. Bagian depan mobil hancur, berikut sayap belakangnya. As depan patah. Rodanya membentur kepala Senna, menghempaskannya pada sandaran tempat duduk. Sementara pecahan suspensi menembus helmnya. The game is over.

Peristiwa tragis itu mengguncang dunia Formula Satu. Erick Comas, rekan sesama pembalap, bahkan memutuskan untuk mengakhiri karirnya di Formula Satu di musim itu juga. Barangkali ia yang paling terpukul di antara pembalap-pembalap lain. Sebab dua tahun sebelumnya, Comas juga pernah kecelakaan saat babak kualifikasi. Ia menabrak dinding lintasan dan tak sadarkan diri. Badan mobil menutup separuh jalan. Sedangkan mesin mobil masih dalam keadaan menyala, dan kaki Comas masih menginjak pedal gas dalam-dalam.

Berbeda dengan pembalap-pembalap lain yang melewati begitu saja mobil naas tersebut, Senna—yang tak lama kemudian melintas—menghentikan mobil dan keluar dari kokpitnya. Ia berlari menuju Comas. Mesin mobil Comas ia matikan agar tidak timbul kebakaran. Ia juga menahan kepala Comas hingga tim medis datang. Pasca kejadian itu, Comas berterimakasih pada Senna karena telah menyelamatkan nyawanya. #Respect. Namun dua tahun berselang, giliran Comas yang menghentikan mobilnya di lintasan saat Senna kecelakaan, kali ini di dekat helikopter palang merah. Hanya saja Comas tak dapat berbuat apa-apa lagi...

Yang lebih tragis dalam kecelakaan Senna, tim medis menemukan bendera Austria di balik lengan bajunya. Barangkali ia ingin mengibarkan bendera tersebut di garis finish. Untuk apa? Mengenang Roland Ratzenberger, seorang pembalap asal Austria, yang [hanya] sehari sebelumnya meninggal di sirkuit yang sama. Namun maut tak memberikan Senna kesempatan untuk mengibarkannya…

Ah ya, sekian dulu tentang Senna.

Itulah sebabnya, komisi penyelenggara perlombaan Formula Satu menetapkan regulasi-regulasi baru setiap tahunnya. Selain untuk menambah unsur kompetisi dalam balapan, juga demi keselamatan pembalap. Sementara PBB menetapkan senjata-senjata yang terlarang dalam peperangan, seperti bom fosfor.

Kali ini Israel yang melanggar saat mereka menyerang Gaza. Tapi—seperti biasa—entah bagaimana mereka bisa lolos dari jeratan hukum. Padahal BBC melaporkan bahwa salah satu kamp Unicef di Gaza, berikut obat-obatan yang tersimpan di dalamnya, terbakar karena serangan bom fosfor Israel.

Kekuatan tanpa kontrol itu cenderung menghancurkan. Destruktif. Pernyataan tersebut seolah-olah merupakan hukum alam, di mana relasi antara kekuatan dan kontrol juga dapat ditemukan. Sebut saja bagaimana sinar matahari disaring oleh atmosfer. Entah apa akibatnya jika radiasi matahari tak terbendung, apalagi saat terjadi badai matahari, tatkala energi secara masif dilontarkan ke luar angkasa. Atmosfer dalam hal ini menjadi pelindung bumi dari keganasan matahari, penyeimbangnya yang alami. Apakah kehidupan di muka bumi akan bertahan tanpa atmosfer?

Entahlah. Yang jelas, saat menahan energi dari matahari, atmosfer akan menyuguhkan kepada kita pemandangan yang unik; sebuah tirai cahaya yang berpendar indah di langit malam, simbol adanya kontrol, harmoni dan keseimbangan;

Aurora.

Dibuai Kewajaran

Dulu ketika masih di pondok, setiap selesai shalat maghrib, bagian penerangan akan membacakan nama-nama santri yang sakit untuk didoakan bersama. Dalam kesempatan seperti itu, ada satu ungkapan yang tak pernah ketinggalan disebut "Kesehatan adalah mahkota yang tidak terlihat kecuali oleh orang-orang yang sakit."

Sekilas ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan adalah salah satu kenikmatan besar yang sering terlupakan. Namun sebenarnya ia mengisyaratkan makna yang lebih dalam. Ia menunjukkan tabiat manusia yang suka lalai.

Ada yang bilang, "Hanya orang-orang penting yang tahu kepentingan." Mengapa tidak semua orang mengetahui kepentingan?

Kepentingan atau nilai, sebagaimana halnya aksiden lain, tidak kasat mata. Ia tidak wujud dengan sendirinya, bahkan keberadaannya tergantung pada keberadaan 'inang' dan kadarnya ditentukan olehnya.

Ambil saja contoh: waktu. Semua orang sepakat, waktu adalah elemen dasar bagi wujud. Tapi nilai waktu itu sendiri terkadang bertambah lantaran variabel-variabel eksternal, seperti kompetisi. Semakin ketat kompetisi, semakin mahal pula nilai waktu. 1/1000 detik bisa saja menentukan kalah-menang dalam perlombaan formula satu. Padahal, bagi kebanyakan orang, 1/1000 detik adalah hal yang luar biasa wajar...

Begitu pula dengan kesehatan, misalnya. Kepentingannya baru disadari ketika sakit datang. Nilai helm ketika terjadi benturan, atau kecelakaan; sahabat, atau bahkan sekadar sapaan ringan yang sering dianggap angin lalu barangkali menjadi penghalau sepi. Namun nilai itu sendiri telah ada di sana sebelumnya, menunggu untuk disadari.

Ada yang bilang, cara terbaik untuk menyembunyikan rahasia adalah di tempat umum; di mana orang menganggap semuanya wajar. Tempat itu tak pernah diduga. Kepentingan, juga kerabat nilainya, tersembunyi di balik kewajaran-kewajaran tadi. Karena kewajaran seringkali dianggap batas bagi hal-hal 'remeh', nilai yang ia bawa juga kerap terabaikan. Ibarat orang berkacamata yang tak lagi menyadari keberadaan lensa di pelupuk matanya.

Bagi orang dewasa, hal-hal tersebut sangat wajar. Terlalu biasa untuk dipertanyakan. Berbeda halnya dengan anak kecil. Mereka belajar dengan cepat, karena mereka melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, dunia ini baru, dunia ini aneh, dunia ini menakjubkan. Keheranan dan keingintahuan menggedor-gedor benak mereka, 'memaksa' untuk bertanya.

Namun kata 'wajar' menghentikan segala keingintahuan. 'Wajar' menahan kita untuk menggali kembali nilai-nilai yang ada di sekitar kita, akan kepercayaan, tanggung jawab, keindahan, disiplin, hidup, dan penghambaan. Tujuan-tujuan dan motif berlalu bersama perbuatan, luruh dalam pusaran waktu, lalu lenyap ditelan fana...

...dan kita harus terbangun dari buaian 'wajar', menimbang langkah, karena penyesalan bersembunyi di akhir beberapa pilihan.

Enigma

“Faith is the bird that feels the light and sings when the dawn is still dark.” —Rabindranath Tagore.
Tinggal sepertiga gelas. Waktuku tak banyak. Mereka belum menjawab, tapi laku mereka menolak. Sinis. Kau tak lebih dari seorang pesimis, ejek mereka, yang terasing di sudut khayal dan tak mau beranjak. Perhatianmu terpaku pada cairan kuning itu, dan semakin mengerut bersama volumenya yang semakin mengecil. Pandanganmu terbatas, sebatas dangkalnya permukaan ashir itu.

Lewati batas itu. Tapi dengan apa?

Mata mereka menyorot ruang kosong di atasnya, yang tak kuhiraukan. Ketiadaan yang kau abaikan adalah kunci. Aku masih ingat mereka bilang, bersyukurlah. Ya, bersyukurlah atas dua pertiga yang telah kau nikmati. Acuhkan kelabu yang menggelayuti langitmu. Di atas mendung itu, langit masih biru.

Suara-suara itu masih terus berbisik, namun aku masih ragu. Apakah mereka hanya menghibur diri? Ketidakpastian memang bukan jaminan keberhasilan, tapi ia juga bukan jaminan kegagalan. Titik terang itukah yang kau sebut harapan?

Ah, kau menyebut harapan; mengingatkanku akan kisah Pandora—sang putri Dewa—dan kotak terlarang. Pandora yang membukanya tak tahu, bahwa Zeus memenuhinya dengan malapetaka. Tangis Pandora tak lagi berguna saat segala keburukan merajalela. Namun ada satu hal yang tersisa di dasar kotak terkutuk itu, harapan.

Harapanlah yang akan menjadi obat bagi kegelapan. Itukah pikirmu?

Apakah harapan merupakan kabar baik, Pandora? Bukankah harapan palsu akan meremukkan jiwamu? Apakah harapan itu pasti?

Dari mana kita tahu, bahwa di atas mendung itu, ada langit biru. Kita tak pernah benar-benar memandangnya. Dari mana burung tahu, bahwa fajar benar-benar akan datang. Optimisme, sebagaimana pesimisme, hanyalah gambaran parsial di benak. Ia tak utuh. Ia bukan kenyataan. Ia hanya cara pandang. Lalu apa yang akan membuatnya nyata?

Katakan kawan, siapa yang bisa menjamin kepastian?

Batas

Ashir Mangga itu masih menunggu untuk dihabiskan. Sabar, batinku. Temani aku barang sebentar, mengantar matahari kembali ke barat. Apakah ia yang meninggalkan aku, atau bumi yang berlari memaksaku. Nisbi, katanya. Namun lengkung jarak itu kian merenggang, dan menjadi keniscayaan yang tak lagi mampu ku rengkuh. Seolah-olah jemari gaib datang lalu menggurat lingkaran yang mengungkungku.

Batas.

Bintang muda itu perlahan turun menyentuh cakrawala; mengakhiri hari pendek di akhir tahun yang membeku. Satu dari miliaran tahun yang telah ia lalui. Akhir yang menyisakan dingin dan kelam yang membekap bumi beserta makhluk-makhluk bodoh di atasnya. Adakah itu hukuman yang kau suguhkan, atau tamparan yang membangkitkanku dari kelalaian; bahwa hidup tak mungkin berlangsung tanpamu? bahwa kedigdayaan manusia tak sempurna?

Dingin hembusan angin, sebagai kenangan yang ia tinggalkan, membuatku menggigil; menyeretku kembali ke alam nyata. Satu teguk. Kemudian permukaan ashir itu pun merendah, meninggalkan seberkas garis kuning yang melingkar di atasnya.

Batas.

Suq Sayyarah tak seramai biasanya. Musim ujian. Dingin mungkin tak dihiraukan karenanya. Ada tujuan di sana. Tujuan yang membuat kulit mereka mati rasa. Mereka memacu kuda sekencang mungkin, mengikuti alur yang telah digariskan. Namun apakah mereka pernah bertanya, apakah sebenarnya yang mereka lakukan itu ujian? Mengapa mereka melakukannya? Apakah alur yang telah mereka gariskan itu benar? Apakah tujuan yang mereka upayakan tepat? Ataukah sebaliknya, kacamata kuda telah menghalangi dan membatasi pandangan mereka?

Ujian itu bukan perkara menorehkan pena, menulis jawaban di kertas, atau membalas pertanyaan lisan dengan rapalan mantra. Ujian adalah pertanyaan besar kepada diri kita, akan hidup, masa depan dan akan kehendak-Nya...

Otakku terhempas di sana, seakan tertumbuk pada tabir. Lingkaran tadi, yang telah tergariskan. Suara tumbukan itu bergema, menyusun kata demi kata. Masa lalu adalah kepastian, masa depan adalah misteri. Masa lalu tak bisa kau rubah, sedang masa depan tak bisa kau pastikan...

Batas.

Manusia itu terbatas. Benarkah? Tidakkah engkau saksikan, bagaimana saat mereka berusaha untuk mengendalikan alam mereka; menggariskan masa depan yang pasti untuk mereka jalani. Entah mereka sedang dalam keadaan sadar, atau tidak. Mereka tidak rela kehilangan kuasa atas nasib mereka sendiri, tidak pada alam, tidak pula pada misteri takdir. Ketidakpastian, bagi mereka, adalah musuh yang harus dibungkam.

Namun suatu ketika, beban yang mereka panggul semakin berat. Harapan yang selama ini menopang beban mereka perlahan bengkok lalu patah, lapuk dimakan waktu. Kepercayaan yang terkhianati. Impian-impian terbang lepas dan meninggalkan mereka. Kerja keras mereka terbentur pada keterbatasan diri.

Mereka gusar. Haruskah mereka menyerah pada keterbatasan dan ketidakpastian?

Enigma...

Menantang Asumsi

"Asumsi adalah jendela dunia Anda.
Sesekali bersihkanlah jendela tersebut,
atau cahaya tak akan dapat masuk."
[Your assumptions are your windows on the world.
Scrub them off every once in a while,
or the light won't come in.]
― Isaac Asimov

Kutipan di atas mengingatkan saya akan satu istilah yang digunakan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya yang tersohor, The Seven Habits of Highly Effective People. Istilah tersebut adalah paradigma. Oleh KBBI, paradigma diartikan sebagai kerangka berpikir. Untuk lebih jelasnya, Covey mengandaikan paradigma sebagai sebuah peta. Peta adalah model tiruan dari keadaan lapangan yang sesungguhnya. Bedanya, paradigma merupakan gambaran mental; gambaran yang terbentuk dalam pikiran kita, akan kehidupan yang kita jalani.

Sebagaimana sebuah peta, paradigma juga rentan terhadap pertanyaan kritis, seperti: Apakah paradigma tersebut telah sesuai dengan situasi yang sebenarnya?

Paradigma, cara pandang kita terhadap dunia, tersusun dari kesimpulan atas informasi-informasi yang kita terima dari dunia luar. Kesimpulan tersebut kemudian kita jadikan pijakan untuk berpikir dan menyikapi sesuatu. Masalahnya, banyak kesimpulan yang—tanpa kita sadari—kita terima begitu saja. Padahal ia baru merupakan dugaan, bukan sesuatu yang telah pasti kebenarannya. Kesimpulan itulah yang disebut dengan asumsi (KBBI daring: dugaan yang diterima sebagai dasar atau landasan berpikir karena dianggap benar).

Istilah lain yang berdekatan dengan asumsi adalah aksioma. Menurut KBBI daring (lagi :P), aksioma adalah pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian. Hal-hal yang bersifat aksiomatis [badîhiyyât] memang diterima kebenarannya dan dapat digunakan sebagai landasan berpikir serta menarik kesimpulan. Tapi masalahnya, apakah dasar yang kita gunakan dalam berpikir, memandang peristiwa yang terjadi di sekitar kita, atau menyikapi sesuatu, selalu merupakan aksioma?

Dalam proses berpikir manusia, dikenal dua macam sifat pengetahuan: badihy (aksiomatik), yaitu pengetahuan yang dicapai tanpa melalui proses penalaran; dan nazhary (teoritik), yaitu pengetahuan yang dicapai melalui proses penalaran.

Kesimpulan yang dicapai melalui penalaran paling tidak masuk dalam satu dari lima kategori: Pertama, ‘ilm, atau keyakinan yang tegas, sesuai dengan kenyataan dan mempunyai landasan yang kuat; kedua, zhann, atau keyakinan yang cenderung kuat terhadap salah satu kemungkinan yang mendekati kenyataan, tapi belum mencapai derajat yaqîn; ketiga, syakk, keyakinan yang berimbang antar kemungkinan benar-salah; keempat, wahm, lawan zhann atau keyakinan yang lemah terhadap sebuah kemungkinan; kelima, jahl, yaitu pengetahuan yang jazim akan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan [jahl murakkab]. Adapun ketiadaan pengetahuan [jahl basîth] tidak masuk dalam kategorisasi ini karena ia merupakan ketiadaan (ilmu) mutlak [bersifat ‘adamiyyah, nihil], sedang ketiadaan tak dapat dikelompokkan layaknya sifat yang wujud.

Tiga kriteria yang menjadi syarat kategori ‘ilm tadi dapat diubah menjadi pertanyaan dasar untuk menguji kembali asumsi kita.
Apakah kesimpulan tersebut punya landasan yang kuat?
Apakah kesimpulan tersebut sesuai dengan kenyataan?
Apakah kesimpulan tersebut kita yakini dengan tegas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak musti selalu diterapkan pada pernyataan-pernyataan abstrak, tapi juga terhadap peristiwa yang kita temui dalam keseharian.

Sebut saja, misalnya kita temui seorang teman yang selalu online di Facebook, padahal sudah dekat waktu ujian. Bagaimana penilaian kita akan peristiwa tersebut? Bagaimana kesimpulan kita akan perbuatan teman kita tadi? Apa yang akan kita lakukan sebagai teman yang peduli?

Atau kasus lain yang lebih dilematis: orang asing yang kita temui di tengah jalan, tiba-tiba sambil menunjukkan selembar resep dokter, ia mengaku kekurangan biaya untuk membeli obat dan memohon uluran tangan kita. Haruskah kita termakan bualan penipu tersebut? Ataukah kita harus mempercayai sosok malang tadi?

Namun bagaimanapun juga harus diakui, tidak semua peristiwa dapat diketahui dengan pasti penyebab atau kadar kebenarannya. Atau ada kalanya derajat ilm tidak diperlukan, seperti ketika kita tak sengaja mendengar rumor sepele tentang orang lain. Sepele dalam artian: jikapun kita mengetahuinya, pengetahuan tersebut tidak bermanfaat dan jikapun kita tidak mengetahuinya, ketidaktahuan kita tidak membahayakan [al-‘ilm bihi lâ yanfa‘ wa al-jahl bihi lâ yadhurr].

Dari pemaparan di atas, paling tidak kita tahu bahwa asumsi juga rentan. Namun sayang sekali, banyak yang terlanjur menerima asumsi begitu saja. Sehingga secara tak sadar, mereka menjauh dari kenyataan.


Challenge our own assumption?
Reality check ahead.

Gugusan Siklus

Malam itu aku rebahkan tubuhku di kursi balkon. Aku pandang langit, ah, bintang-bintang itu masih di sana. Menghiasi langit malam Kairo yang tak hitam, tapi merah temaram.

Langit malam dengan bintang dan bulan? Hihi, cerita kuno. Sekarang manusia sudah ciptakan bintang dan bulan mereka sendiri. Lebih besar dari aslinya? Nggak juga, tapi ribuan kilometer lebih dekat dan puluhan watt lebih terang dari cahaya bulan yang sampai ke bumi. Dan yang pasti, kalau rusak bisa diganti :P

Cahaya bulan memang bisa ditiru. Tapi manusia tak bisa merekayasa penciptaan malam, juga siang. Perputaran bumi, bulan dan matahari pertama kali mengenalkan manusia akan waktu. Ya, waktu. Satu hal yang mengikat kehidupan manusia, dan semesta. Yang biasa mereka sebut hari, bulan atau tahun. Hari adalah satu putaran penuh bumi pada porosnya. Bulan adalah satu putaran penuh bulan terhadap bumi. Tahun adalah satu putaran penuh bumi terhadap matahari.

Apa arti berputar? Perputaran adalah pergerakan benda dari sebuah tempat ke tempat yang sama dalam waktu yang berbeda. Perputaran adalah siklus. Bumi, bulan, matahari dan semesta semuanya bersiklus.

Manusia bersiklus? Secara fisik, mungkin tidak, tapi kehidupan mereka, ya. Mereka makan, tidur dan akan kembali melakukan hal yang sama, dalam waktu yang berbeda. Mereka lahir dari kematian dan akan kembali pada kematian, dalam waktu yang berbeda.

Siklus kehidupan berarti manusia ada untuk sebuah tujuan. Tujuan tersebut adalah awal wujud mereka. Dan kelahiran manusia adalah gerakan hidup pertama untuk kembali ke asal mereka. Siklus.

Dan sebagaimana semesta yang berputar. Bulan yang berotasi dan mengorbit bumi. Bumi berevolusi. Matahari berputar pada pusat bimasakti. Siklus hidup manusia juga terbagi pada siklus-siklus yang lebih kecil yang mengikuti alur siklus utama. Tujuan besar tersebut terbagi pada tujuan-tujuan yang lebih kecil, yang selaras dan seimbang dengan tujuan besar. Keharmonisan semesta, kehidupan.

Dan siklus tak mungkin tercipta tanpa pusat, poros. Matahari dan para planet saling menarik dalam kadar tertentu. Begitu pula gugusan bintang. Bagi manusia, poros mereka adalah yang membuat mereka mampu bersiklus. Apakah itu? atau siapa?

Ah, biarkan manusia yang menjawab, mereka kan makhluk yang paling cerdas. Tapi apakah dengan kecerdasan tersebut mereka mampu? Entahlah, barangkali poros itu kini bernasib sama dengan sang rembulan, tersingkirkan oleh lampu-lampu...



Rabea el-Adawea, 25-02-2011, 21:02:42
[ego-breaking the rules]