Dibuai Kewajaran

Dulu ketika masih di pondok, setiap selesai shalat maghrib, bagian penerangan akan membacakan nama-nama santri yang sakit untuk didoakan bersama. Dalam kesempatan seperti itu, ada satu ungkapan yang tak pernah ketinggalan disebut "Kesehatan adalah mahkota yang tidak terlihat kecuali oleh orang-orang yang sakit."

Sekilas ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan adalah salah satu kenikmatan besar yang sering terlupakan. Namun sebenarnya ia mengisyaratkan makna yang lebih dalam. Ia menunjukkan tabiat manusia yang suka lalai.

Ada yang bilang, "Hanya orang-orang penting yang tahu kepentingan." Mengapa tidak semua orang mengetahui kepentingan?

Kepentingan atau nilai, sebagaimana halnya aksiden lain, tidak kasat mata. Ia tidak wujud dengan sendirinya, bahkan keberadaannya tergantung pada keberadaan 'inang' dan kadarnya ditentukan olehnya.

Ambil saja contoh: waktu. Semua orang sepakat, waktu adalah elemen dasar bagi wujud. Tapi nilai waktu itu sendiri terkadang bertambah lantaran variabel-variabel eksternal, seperti kompetisi. Semakin ketat kompetisi, semakin mahal pula nilai waktu. 1/1000 detik bisa saja menentukan kalah-menang dalam perlombaan formula satu. Padahal, bagi kebanyakan orang, 1/1000 detik adalah hal yang luar biasa wajar...

Begitu pula dengan kesehatan, misalnya. Kepentingannya baru disadari ketika sakit datang. Nilai helm ketika terjadi benturan, atau kecelakaan; sahabat, atau bahkan sekadar sapaan ringan yang sering dianggap angin lalu barangkali menjadi penghalau sepi. Namun nilai itu sendiri telah ada di sana sebelumnya, menunggu untuk disadari.

Ada yang bilang, cara terbaik untuk menyembunyikan rahasia adalah di tempat umum; di mana orang menganggap semuanya wajar. Tempat itu tak pernah diduga. Kepentingan, juga kerabat nilainya, tersembunyi di balik kewajaran-kewajaran tadi. Karena kewajaran seringkali dianggap batas bagi hal-hal 'remeh', nilai yang ia bawa juga kerap terabaikan. Ibarat orang berkacamata yang tak lagi menyadari keberadaan lensa di pelupuk matanya.

Bagi orang dewasa, hal-hal tersebut sangat wajar. Terlalu biasa untuk dipertanyakan. Berbeda halnya dengan anak kecil. Mereka belajar dengan cepat, karena mereka melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, dunia ini baru, dunia ini aneh, dunia ini menakjubkan. Keheranan dan keingintahuan menggedor-gedor benak mereka, 'memaksa' untuk bertanya.

Namun kata 'wajar' menghentikan segala keingintahuan. 'Wajar' menahan kita untuk menggali kembali nilai-nilai yang ada di sekitar kita, akan kepercayaan, tanggung jawab, keindahan, disiplin, hidup, dan penghambaan. Tujuan-tujuan dan motif berlalu bersama perbuatan, luruh dalam pusaran waktu, lalu lenyap ditelan fana...

...dan kita harus terbangun dari buaian 'wajar', menimbang langkah, karena penyesalan bersembunyi di akhir beberapa pilihan.





7 comments:

Muhammad Syaifuna said...

Pertamax..:D Antum semakin maco tata hehe


Arief Assofi said...

awsome :)


Yulian said...

angtum tetap brilian seperti biasa ustak


nggapriel said...

thanks for all :)


Nisa Mujahidah said...

Keren,,, :)


extraordinary said...

i wont say it's a next gm, it's simply a real ap, :)


nggapriel said...

for me, there's still long way to go, dude..
and I admire your writing skill, though..
extraordinary :)