Keseimbangan

Mobil yang kutumpangi menerobos gelap malam. Lampunya terang menyorot aspal yang mulus. Iseng saja terlintas di benakku, bagaimana orang-orang dahulu melintasi perjalanan malam. Mereka tak bisa bersandar pada kursi empuk yang nyaman, sembari menikmati sejuknya AC. Aku juga tak dapat membayangkan bagaimana mereka mengamankan diri dari binatang buas yang berkeliaran di malam hari, saat mereka beristirahat. Ya, aku tak dapat merasakannya karena saat ini aku hidup dalam waktu yang berbeda. Ada teknologi yang memanjakan.

Jika terjadi pertempuran antara Amerika dengan pasukan Romawi, barangkali pertempuran itu akan berakhir dalam hitungan jam. Peperangan bukan perkara menyapu habis seluruh personel lawan, tapi juga adu strategi dan perhitungan teknologi. Dinding Konstantinopel yang tebal tak mungkin ditembus dengan infanteri biasa. Apalagi di belakangnya terdapat manjanik, ketapel-ketapel raksasa yang siap melontarkan batu-batu besar. Mungkin mirip dengan salah satu adegan dalam film The Lord of the Rings; saat Gandalf mempertahankan kota Minas Tirith dari gempuran tentara Saruman.

Konstantinopel baru jatuh di tangan dinasti Utsmani dalam pengepungan antara 6 April-29 Mei 1453, salah satunya berkat meriam-meriam raksasa yang sanggup menembakkan proyektil 250 kilogram sejauh satu setengah kilometer. Menakjubkan… setidaknya untuk saat itu.

Sedang Amerika? Bom atom, cukup.

Superioritas yang dijanjikan oleh teknologi ternyata tidak gratis. Kekuatan yang tak terkontrol cenderung menghancurkan. Kontrol. Siapa yang mengira, bom atom seperti yang dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima; yang membunuh 200.000 orang, ternyata dapat dijinakkan berkat teknologi. Dari senjata pembunuh massal berubah menjadi pembangkit listrik yang dapat menghasilkan energi yang jauh lebih besar dari air, panel surya, angin, atau sumber-sumber alami lainnya.

High risk high gain, demikian jargon yang dikenal dalam dunia ekonomi. Atau kalau mau mengikuti perspektif yang kurang positif, ia dapat dibalik, high gain high risk. Tenaga nuklir dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik dengan syarat, selama stabilitas intinya terjaga. Tragedi Chernobyl yang terjadi pada 26 April 1986 barangkali merupakan cermin terbaik prinsip ini. Kesalahan menjalankan prosedur mengakibatkan reaktor nuklir milik Soviet itu meledak.

Para petugas yang memadamkan kobaran api terpapar radiasi yang amat kuat. Belasan dari mereka bahkan meninggal hanya dalam tempo dua minggu setelahnya. Puluhan sisanya terjangkit kanker, katarak, atau penyakit lain yang disebabkan oleh radiasi.

Sekitar 50.000 penduduk kota Pripyat, tempat reaktor tersebut, dievakuasi ke kota-kota terdekat. Pemerintah Soviet pada mulanya menjanjikan para pengungsi dapat kembali ke tempat tinggal masing-masing setelah tiga hari. Tapi radiasi nuklir tak hilang hingga puluhan tahun. Para pengungsi tersebut tak pernah pulang… dan Pripyat menjadi kota mati, tak berpenghuni, hingga kini.

Lain halnya dengan mobil balap macam Ferrari yang ditunggangi Schumacher. Kecepatan mobil harus diimbangi dengan grip (daya lekat mobil ke permukaan jalan) yang baik. Grip berfungsi sebagai kontrol. Tanpa grip yang cukup mobil akan melayang, susah dikendalikan. Sekilas memang remeh, tapi jika kita berbicara tentang jenis mobil yang rekor kecepatannya 360 km/jam, kurangnya kontrol berakibat fatal. Mematikan.

Gambarannya? Ayrton Senna.

Juara dunia tiga kali itu meninggal pada 1 Mei 1994 karena kecelakaan saat balapan di Imola, Italia. Di sebuah tikungan, mobil yang ia kendarai keluar dari lintasan dengan kecepatan 310 km/jam. Senna berusaha mengerem, menghentikan lajunya, tapi ia tak mampu. Dalam waktu kurang dari dua detik, mobil itu menghantam dinding lintasan dengan kecepatan 218 km/jam. Bagian depan mobil hancur, berikut sayap belakangnya. As depan patah. Rodanya membentur kepala Senna, menghempaskannya pada sandaran tempat duduk. Sementara pecahan suspensi menembus helmnya. The game is over.

Peristiwa tragis itu mengguncang dunia Formula Satu. Erick Comas, rekan sesama pembalap, bahkan memutuskan untuk mengakhiri karirnya di Formula Satu di musim itu juga. Barangkali ia yang paling terpukul di antara pembalap-pembalap lain. Sebab dua tahun sebelumnya, Comas juga pernah kecelakaan saat babak kualifikasi. Ia menabrak dinding lintasan dan tak sadarkan diri. Badan mobil menutup separuh jalan. Sedangkan mesin mobil masih dalam keadaan menyala, dan kaki Comas masih menginjak pedal gas dalam-dalam.

Berbeda dengan pembalap-pembalap lain yang melewati begitu saja mobil naas tersebut, Senna—yang tak lama kemudian melintas—menghentikan mobil dan keluar dari kokpitnya. Ia berlari menuju Comas. Mesin mobil Comas ia matikan agar tidak timbul kebakaran. Ia juga menahan kepala Comas hingga tim medis datang. Pasca kejadian itu, Comas berterimakasih pada Senna karena telah menyelamatkan nyawanya. #Respect. Namun dua tahun berselang, giliran Comas yang menghentikan mobilnya di lintasan saat Senna kecelakaan, kali ini di dekat helikopter palang merah. Hanya saja Comas tak dapat berbuat apa-apa lagi...

Yang lebih tragis dalam kecelakaan Senna, tim medis menemukan bendera Austria di balik lengan bajunya. Barangkali ia ingin mengibarkan bendera tersebut di garis finish. Untuk apa? Mengenang Roland Ratzenberger, seorang pembalap asal Austria, yang [hanya] sehari sebelumnya meninggal di sirkuit yang sama. Namun maut tak memberikan Senna kesempatan untuk mengibarkannya…

Ah ya, sekian dulu tentang Senna.

Itulah sebabnya, komisi penyelenggara perlombaan Formula Satu menetapkan regulasi-regulasi baru setiap tahunnya. Selain untuk menambah unsur kompetisi dalam balapan, juga demi keselamatan pembalap. Sementara PBB menetapkan senjata-senjata yang terlarang dalam peperangan, seperti bom fosfor.

Kali ini Israel yang melanggar saat mereka menyerang Gaza. Tapi—seperti biasa—entah bagaimana mereka bisa lolos dari jeratan hukum. Padahal BBC melaporkan bahwa salah satu kamp Unicef di Gaza, berikut obat-obatan yang tersimpan di dalamnya, terbakar karena serangan bom fosfor Israel.

Kekuatan tanpa kontrol itu cenderung menghancurkan. Destruktif. Pernyataan tersebut seolah-olah merupakan hukum alam, di mana relasi antara kekuatan dan kontrol juga dapat ditemukan. Sebut saja bagaimana sinar matahari disaring oleh atmosfer. Entah apa akibatnya jika radiasi matahari tak terbendung, apalagi saat terjadi badai matahari, tatkala energi secara masif dilontarkan ke luar angkasa. Atmosfer dalam hal ini menjadi pelindung bumi dari keganasan matahari, penyeimbangnya yang alami. Apakah kehidupan di muka bumi akan bertahan tanpa atmosfer?

Entahlah. Yang jelas, saat menahan energi dari matahari, atmosfer akan menyuguhkan kepada kita pemandangan yang unik; sebuah tirai cahaya yang berpendar indah di langit malam, simbol adanya kontrol, harmoni dan keseimbangan;

Aurora.





4 comments:

MUHAMMAD YULIAN MA'MUN said...

Kalo menurut sutradara Michael Bay,meledaknya Chernobyl karena sumber energinya menggunakan reaktor dari pesawat Autobots yang mangkrak di bulan. Manusia belum siap untuk menerima teknologi dari makhluk cerdas asal Cybertron tersebut. (Referensi; Transformers 3: Dark of the Moon)

:)

Artikelnya mangstab!


Arief Assofi said...

Hmmmm.....
Gimana kiamat nanti ya?


nggapriel said...

Ma'mun, berarti kita harus belajar dari Optimus Prime dong :P
thanks, ki sanak.

Arief, wah, gak tahu juga gan. Semoga gak sampe ketemu, hehe :D


extraordinary said...

Mou memenangi banyak titel dengan emosi yang meledak-ledak, sementara Fergie memenanginya dengan lebih jarang. Fergie mencatatkan dirinya sebagai salah satu manager terbaik sepanjang masa tanpa perlu memenangi gelar terlalu banyak. Dari situ saya sedikit belajar tentang pentingnya stabilitas.
*Footballaddictview, hehe.