Pleidoi bagi Introvert

75% dunia ini dihuni oleh orang-orang ekstrovert. Tak heran apabila kebudayaan kita seolah-olah terbentuk untuk mengakomodasi pola pergaulan yang mereka gunakan, mulai dari cara berkomunikasi, pola interaksi, dan lain sebagainya. Di tengah-tengah dunia yang demikian, orang-orang introvert terlihat asing karena mereka berbeda. Mereka kerap disalahpahami sebagai pemalu, pendiam, anti-sosial, cuek terhadap lingkungan, aneh, dan lain sebagainya. Bahkan kadang-kadang dipandang sebelah mata.

Apa sih introvert dan ekstrovert itu?

Menurut pembagian tipe kepribadian, ekstrovert dan introvert adalah cara seseorang memproses informasi dari dunia luar. Orang-orang introvert membawa informasi tersebut ke dalam diri mereka.

Karena itu, orang-orang introvert lebih sering terlihat diam. Padahal kepala mereka dipenuhi dengan suara-suara dari dalam diri. Secara fisik mungkin mereka tak berpindah tempat, tapi pikiran mereka asyik meloncat-loncat dari satu poin ke poin lain, mencoba memahami apa yang mereka dapatkan. Setelah diam, tak jarang mereka tiba-tiba membicarakan hal di luar topik pembicaraan. Padahal menurut mereka perpindahan topik itu tidak mengejutkan seperti yang lawan bicaranya kira, sebab topik tersebut bergeser perlahan-lahan dalam pikiran, ketika mereka diam.

Itulah kenapa orang-orang introvert tak suka berada di tempat-tempat yang ramai, seperti perayaan, dan lain sebagainya. Pikiran mereka yang telah dipenuhi oleh suara-suara diri, akan semakin bising dengan informasi-informasi baru dari luar. Jika informasi tersebut sudah dirasa terlalu banyak, mereka akan merasa lelah, lalu perlahan-lahan menepi dan menyingkir. Penarikan diri dalam konteks ini bisa jadi bukan dalam artian fisik, namun dalam artian mental. Mereka akan diam dan terlihat tidak tertarik, setelah sebelumnya terkesan bergairah.

Dalam berinteraksi, mereka memang punya lingkaran pergaulan yang lebih sempit dibandingkan dengan golongan ekstrovert. Teman mereka mungkin tidak banyak. Namun orang-orang introvert mampu membangun hubungan yang dalam dan berjangka panjang. Mereka lebih mementingkan kualitas pertemanan daripada jumlah teman. Mereka tidak terlalu tertarik dengan basa-basi atau yang semacamnya. Bagi mereka obrolan seperti itu terlalu superfisial, terlalu dangkal. Mereka lebih suka pembicaraan yang mendalam, tentang topik-topik yang mereka minati atau yang menurut mereka benar-benar berarti. Baru ketika masuk ke ‘zona’ ini, orang-orang introvert akan bersemangat, bahkan dapat menyerupai ekstrovert bila diberi kesempatan bicara.

Karena itu pula, orang-orang introvert terkesan memiliki kepribadian ganda. Saat mereka berada di lingkungan asing, mereka terlihat diam, kaku dan menarik diri. Namun mereka akan menampilkan wajah yang berbeda ketika masuk ke dalam lingkaran pergaulan terdalam, dengan orang-orang dekat mereka.

Diamnya seorang introvert bukan selalu berarti cuek atau tidak mau tahu lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Bisa jadi hal tersebut disebabkan kecenderungan mereka yang berlebih untuk ‘masuk’ ke dalam diri mereka sendiri. Buku atau isi lemari yang berantakan tidak digubris hingga dirasa mengganggu. Tapi kapan ia merasa ‘kekacauan’ itu mengganggu, itu persoalan lain. Perhatian mereka ke dunia luar memang terbatas. Namun di kasus lain, sebenarnya mereka memperhatikan dunia luar dan ikut menilainya. Hanya saja, mereka lebih memilih untuk diam, menyimpan pikiran mereka.

Jadi mereka bukan pendiam, sebab pikiran mereka terus berbicara. Mereka bukan anti-sosial, melainkan lebih nyaman berada di orang-orang terdekat mereka. Orang-orang introvert juga bukan benci mengobrol, mereka hanya mengobrol dengan cara berbeda.

Karakter kepribadian introvert di satu sisi mempunyai kelemahan bila dihadapkan dengan pergaulan luas. Emosi atau pikiran mereka kadang-kadang terisolasi dari dunia luar. Mereka sering tidak dapat memahami emosi atau pikiran orang lain, walaupun mereka ingin. Pengalaman seperti itu bagi mereka sendiri terkadang menyakitkan.

Oleh sebab itu, mengembangkan kemampuan sosialisasi yang memadai perlu dilakukan oleh introvert, tanpa harus menjadi seorang ekstrovert.

Namun di sisi lain, menjadi seorang introvert adalah sebuah kelebihan. Perhatian mereka tersedot pada satu tema saja, sehingga lebih mudah fokus. Teman-teman mereka selalu dapat diandalkan. Mereka juga penjaga rahasia yang dapat dipercaya.

Singkatnya, introvert itu bukan penyakit yang harus disembuhkan, atau kesalahan yang perlu diluruskan.





4 comments:

Arief Assofi said...

Jiah, ini mah pembelaan atas diri sendiri... kwkwkwkwkw..... :D

Sudah bisa diprediksi, tulisan ini mucul akibat serangan mendadak dari seseorang atas karakter antm, hahahaha..... *kabur :v

Eh, btw kok kayaknya ana ada kemiripan sama introver ya? Gimana menurut antm? :)


nggapriel said...

Wah, hanya karena tulisan ini berjudul 'Pleidoi' [premis1] dan ane juga introvert [premis2], trus disimpulkan kalo pribadi ane diserang... nggak ada kaitan logisnya, rif. Itu baru asumsi. Nt terburu-buru menyimpulkan, lalu memvonis dengan asumsi belaka.

Sori ya, rif. Kali ini anda salah besar, hehe :D

Jadi tulisan ini nggak hadir karena serangan atas diri ane pribadi, bro. Tulisan ini cuma ngangkat sisi introvert yang sering disalahpahami. Intinya bagaimana membangun pengertian dengan introvert. Itu saja :)

Kalo nt punya kemiripan sama introvert, ane nggak tahu, haha. Tapi kan setiap orang punya kecenderungan introvert dan ekstrovert. Cuma takarannya beda-beda. Mana yang lebih dominan, intro nya atau ekstro nya.

Eh, CMIIW ya :D


Arief Assofi said...

Yah, mungkin klo secara khusus antm gak diserang. Tapi sebagai introver, secara umum antm kena serang sama orng2yg "menyalahpahami" orng2 introver.
Jadi, ana kira asumsi ana benar dengan pengakuan antm sendiri bahwa introver sering disalahpahami. :D

Klo ana pribadi sih, merasa lebih cenderung introver. Cuma selama ini ana sering terjebak keadaan yang mengharuskan untuk memperluas pergaulan, seperti mengkoordinir kajian misalnya -_- . Cukup menyiksa sih, cuma ketika sudah terbiasa, bisa agak enjoy. Tapi ketika kepentingan dari memperluas pergaulan sudah selesai, kembali seperti pertama. Ini perasaan aja. Gak tau sebenarnya gimana :D

Ala kulli, thanxs banget tulisannya, sangat mencerahkan :)


nggapriel said...

haha, whatever lah.. :P

Gimanapun juga, namanya tuntutan sosial pasti ada, rif. Anggap saja itu latihan biar nanti dapat menjalankan tugas di masyarakat, klo nt udah selese kuliah dan pulang ke Indonesia, heu :)

Sip. sama2 :)