Showing posts with label Menurutku. Show all posts
Showing posts with label Menurutku. Show all posts

Maaf

Kata maaf memang mudah, tapi belajar memaafkan itu butuh waktu.

"Maaf, aku salah."
"Aku memaafkan kamu."

Ada perkataan bahwa kesalahan kita terhadap orang lain itu seperti paku yang kita tancapkan pada sebuah pohon. Walaupun paku itu sudah kita cabut, tapi bekasnya masih tetap ada. Dan bekas itu akan terus berada di sana, tak akan pernah hilang.

Kita tidak bisa merubah masa lalu. Satu-satunya yang bisa kita rubah adalah bagaimana kita memandangnya. Memori tentang peristiwa yang menyakitkan itu mungkin tak terhapus, tapi pandangan kita tentangnya mungkin berubah. Kita bisa merubah penilaian kita, mengikhlaskannya.

Memaafkan itu tidak berarti bila kita masih menyimpan perasaan sakit terhadap pelakunya dan apa yang diperbuatnya, atau dengan sengaja melupakan perasaan tersebut. Sikap yang kedua ini berarti kita lari. Kita lari dari pandangan dan perasaan kita sendiri.

Memaafkan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa merubah pandangan dan melapangkan dada kita.

Allahummahdinaashiraathakalmustaqiem...

[Rabea el-Adawea]

Gempa Padang Ada di Quran? [bagian 1]

MEMPOSISIKAN AL-QURAN DAN SAINS

Beberapa waktu lalu kita dihenyakkan oleh gempa 7,6 SR yang menimpa Padang. Seolah-olah alam ingin menyadarkan kita, "Kalian itu kecil!" Dan memang sudah seharusnya kita kembali mengintrospeksi diri kita; mengambil hikmah, sebagaimana yang diajarkan al-Quran melalui ayat-ayat azab.

Namun ada seorang ulama yang mengatakan bahwa peristiwa gempa di Sumatera Barat itu sudah tercantum di al-Quran. Beliau mengaitkan antara jam gempa dan nomor ayat di Quran. Gempa di Padang terjadi pukul 17:16 WIB, kemudian gempa lain menyusul pukul 17:58 WIB. Tanggal 1 Oktober, gempa menggoncang Jambi pukul 08:52 WIB. Jika kita buka al-Quran surat 17 ayat 16, surat 17 ayat 58, dan surat 8 ayat 52, niscaya akan kita dapati keterangan tentang azab. [dari suaramedia.com]

Persamaan nomor ayat dan jam itu memang benar. Angkanya sama. Namun masalahnya, apakah al-Quran boleh dan pantas 'diperlakukan' seperti itu?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita membuka lagi satu kontroversi lain dalam ‘ulûm al-Qur'ân, yaitu tentang al-i‘jâz al-‘ilmî [segi i'jaz al-Quran yang bertalian dengan ilmu pengetahuan].

Al-Quran adalah kalamullah, sedang Allah Swt. Mahakuasa dan Maha Mengetahui [al-‘alîm]. Maka sebelum ‘ulûm al-Qur'ân terdefinisikan [seperti sekarang], para ulama berlomba-lomba menulis segala ilmu yang berkaitan dengan al-Quran. Topik pertama yang dituju adalah tafsir, dengan pertimbangan bahwa tafsir adalah tujuan mempelajari ‘ulûm al-Qur'ân. Selain tafsir, para ulama juga menulis ilmu-ilmu parsial yang mereka temui ketika menelaah al-Quran, seperti asbâb al-nuzûl, i‘râb al-Qur'ân, mubhamât al-Qur'ân, gharîb al-Qur'ân, dsb. Apalagi jika ‘ulûm al-hadîts digabungkan dalam ‘ulûm al-Qur'ân—sebab hadits adalah penjelas dan penyokong al-Quran—, pembahasan ‘ulûm al-Qur'ân akan jauh lebih luas.

Cabang-cabang pengetahuan itu tidak menutup kemungkinan akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Karena itu, kebesaran dan keagungan al-Quran, juga cakupan keilmuannya yang luas tak dapat disangkal lagi.

Nah, sekarang al-Quran juga menyinggung tentang alam semesta dalam ayat-ayat tertentu. Misalnya, surat Yasin ayat 36 membicarakan bahwa komponen dalam alam semesta diciptakan berpasangan, atau ayat lain yang membicarakan tentang orbit planet dan bulan. Bagaimanakah kita memposisikan ayat-ayat tersebut? Bagaimana kaitannya dengan sains modern?

Imam Zurqani menggarisbawahi bahwa ayat-ayat sains dan alam bukanlah objek utama dalam al-Quran. Karena ilmu akan selalu berkembang, sedang al-Quran sudah final. Teori ilmiah yang diyakini benar hari ini, belum tentu benar esok hari. Pendapat ini diiyakan oleh Manna' al-Qattan. Dengan mengutip pendapat Sayyid Quthb, Manna' al-Qattan mengatakan justifikasi sebuah penemuah ilmiah dengan ayat al-Quran beresiko sebagai berikut:

[1]  Merendahkan al-Quran dengan memposisikannya sebagai pembenaran atas penemuan sains. Dengan kata lain, al-Quran berkedudukan sebagai pembantu [baca: di bawah] sains. Padahal [sekali lagi] sains masih akan terus berkembang, sedang ayat al-Quran tak akan diwahyukan lagi. [Dampak perlakuan ini dijelaskan di poin kedua]
[2]  Konsekuensi buruk yang mungkin terjadi, setiap perubahan atas sains akan memaksa perubahan terhadap penafsiran al-Quran. Sedang perubahan penafsiran yang berulangkali terhadap kitab suci akan menjatuhkan kredibilitas kitab suci tersebut. Tengok saja bagaimana umat Kristen menuntut revolusi radikal terhadap konsep dasar kitab suci mereka, lantaran teori-teori ilmiah yang didukung oleh Bibel [dan otoritas gereja] runtuh.
[3]  Memandang al-Quran dengan pandangan yang tidak tepat. Al-Quran mendorong manusia agar memfungsikan akalnya agar dapat mengolah bumi; memanfaatkan hasil-hasilnya; menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi, bukannya malah mengiyakan mitos. Dan 'mendorong' tidak berarti 'menjelaskan'.

Dengan kata lain, resiko paling fatal adalah jika teori sains—yang dijustifikasi oleh ayat al-Quran—ternyata salah. Jika kebenaran teori sains tersebut runtuh, runtuh pula kesucian al-Quran.

Namun di sisi lain, Imam Zurqani tidak menafikan bahwa al-Quran mengandung isyarat akan ilmu pengetahuan modern. Hanya saja isyarat tersebut masih bersifat sekilas dan global. Karena ayat tersebut pada dasarnya dimuat guna mengajak manusia berpikir, tafakkur dan tadabbur. Dari perenungan inilah, diharapkan manusia dapat mengetahui, Allah Swt.-lah yang menciptakan alam seisinya.

Untuk lebih jelasnya, Imam Zurqani menukil beberapa catatan dari syekh Abdu'l ‘Azîz Jâwîsy [dengan perubahan, pen]:

[1]  Fungsi utama Al-Quran adalah sebagai kitab petunjuk. Walaupun al-Quran menyinggung sains, ekonomi, prinsip-prinsip sosial dan diungkapkan dengan bahasa sastra yang tak tertandingi, al-Quran tidak turun untuk menjelaskan semuanya secara rinci. Karena itu, al-Quran bukan buku sastra; al-Quran bukan buku pedoman sosial; al-Quran bukan catatan sejarah atau sains. Sekian banyak bidang tersebut hanyalah bagian dari al-Quran itu sendiri. Mengatakan al-Quran sebagai buku sastra atau buku hukum hanya akan mereduksi keagungan al-Quran. [lihat juga pembahasan mengenai kata 'Al-Quran' sebagai nama (al-‘alam)].
[2]  Saat al-Quran turun, banyak penduduk Hijaz dan sekitarnya yang menyembah benda-benda langit dan makhluk lainnya. Ayat-ayat 'sains' diturunkan untuk menjelaskan bahwa semua itu hanyalah ciptaan Allah Swt.
[3]  Ayat-ayat tersebut berfungsi memancing dan memotivasi manusia untuk memberdayakan akal-pikirannya. Hingga pada tingkatan tertentu, manusia akan mengakui kelemahan dirinya dan mengetahui siapa Tuhannya.

Dari beberapa poin di atas, bisa disimpulkan bahwa al-Quran memang memuat ayat yang 'berbau' sains. Namun tujuan ayat tersebut masih inheren dengan tujuan utama al-Quran, sebagai petunjuk. Selain itu, menurut hemat penulis, al-Quran dapat disertakan dalam sains yang tak diragukan lagi kebenarannya, seperti keberadaan bintang, adanya gunung. Sedang dalam teori yang [sedikit-banyak] masih bersifat spekulatif, sebaiknya al-Quran dijauhkan.


Lalu apa hubungannya dengan gempa tadi?
Temukan pembahasannya di tulisan bagian kedua ;)

Mereka Juga Manusia

Suatu ketika, ane lagi duduk-duduk di depan syuun thalabah. Nungguin temen yang mau ngurus tahwil syubah. Sekitar jam setengah sebelasan, orang-orang keluar dari gedung kuliah. Hmm... sudah ganti jam, pikirku.

Seorang mesir bersama beberapa temannya duduk di sampingku, bercanda. Kemudian dia menyapa, biasa orang mesir, basa-basi dulu. Paling-paling bilang "enta andunisy ahlan nas". Basi. Tapi ane mencium gelagat aneh. Cara bicaranya sepertinya sengaja dipercepat. Kemudian dia bilang, "kamu kalo bisa dibiasakan bahasa Arab." Ane yang nggak terima balas bilang, "Arabiyyah zay eih?", Bahasa arab yang gimana? Mau fushah ato amiyah? Lama-lama omongan orang Mesir ini mulai ngelantur ke sana sini. Wah, ini sengaja mo ngerjain ajnaby yang nggak terlalu paham amiyah. Ane segera menyingkir sebelum tangan ini mengepal lebih keras. Dan mereka tertawa terbahak.

***
Kemarin...

Setelah nganterin Wasik, Faiq, sama Royyan berangkat haji, ane yang udah janjian ama Niam bareng ke daerah Madrasah. Kami naik tramco dari Bawwabah tiga. Di perjalanan, ane terlibat percakapan kecil dengan orang di sebelahku, Mesir juga. "Enta min ein?" Ane yang lagi kumat isengnya bilang, "Ana min bawwabah talatah" Orang mesir itu mulai tersenyum, "La, enta min ayyi balad?" Belum juga ane jawab, dia nambahi pake bahasa Inggris, "You come from what country?" Kali ini dengan lidah Arab yang kental, bahasa Inggris yang berat. "I forget", jawabku sambil nyengir. "Bit ul eih?" katanya penasaran. "I'm forget, ana nasiit" Kali ini setengah tramko tertawa. Kok ada orang lupa asalnya sendiri, barangkali begitu batin mereka. Aku senyum-senyum saja dalam hati, dasar orang lagi iseng jangan ditanyain, hehe.

"Laa, kallimni bas enta min ayyi balad. Maifsy musykilah." Akhirnya baru aku jawab, "Ana min andunisy". "Aaah, andunisy, enta ahlan nas" Nah lo, kumat mujamalahnya. Nggak mau kalah, aku balas, "Laa ah, enta elle ahla. Ana baheb Mashr". Suasana jadi cair. Akhirnya ammiyahnya keluar semua. Aku yang nggak bisa nangkep intinya bilang "Busy, kallimni syuwayya aw ala mahlak. Alysan ana musyfahim kitir" Kali ini temannya yang duduk di sebelah kiriku menimpali, panjang banget. Intinya dia bisa memahami bahwa orang-orang wafidin kebanyakan berbicara bahasa fushah lebih lancar daripada lughah syawari', istilah dia.

***

Saat mengantar haji kemaren, aku lihat orang-orang non-mesir tumpek blek di suq sayyarah. Dari Indonesia, Malaysia, Thailand (mungkin), sampe Afrika semua ada. Mulai yang berwajah melayu, china, sampe hitam coklat juga ada. Masing-masing bercanda, berwajah ceria. Sebelum berpisah dengan saudaranya, keluarga atau teman-temannya. Pandanganku tertuju pada seorang ibu yang sekiranya sedang mengantar anaknya (begitu perkiraanku). Keduanya sama-sama orang afrikanya. Mereka juga manusia, punya perasaan.

***
Saat masuk bawwabah taltah (begitu orang mesir bilang), aku lihat seorang ibu dengan tiga orang anaknya duduk di perempatan jalan. Berpakaian ala kadarnya. Kalau mau jujur dikit, agak kotor memang. Melihat seorang bertampang asia berjalan mendekat, sang ibu lantas menepuk pundak anaknya sambil memberi isyarat. Dengan sigap bocah enam tahunan itu menggamit bungkusan tisu lantas berlari dan menyodorkannya padaku. Tangan kanannya mengacungkan sebungkus tisu, sedang mulutnya mengulum telunjuk kirinya yang berdebu.

Tanpa terasa aku menatap matanya. Lugu, polos, penuh harap. Aku tak tahu mau berkata apa...

***
Seratus meter berikutnya, di pertigaan ujung jalan, bocah lain sedang menguntit seorang Malaysia sambil merengek agar mau membeli tisunya. Lima meter, ah nggak, limabelasan meterlah anak itu merayu-rayu seraya menyodorkan tisunya.

***

Apa yang ane tangkap dari peristiwa-peristiwa barusan, sebenarnya kita semua manusia. Cuman kita butuh saling pengertian. Apa yang terjadi, kenyataan di lapangan, kerap terjadi sekat-menyekat. Saya orang Indonesia, wa enta mashry. Orang Mesir punya kebiasaan ngaret, administrasi payah, nggak sabaran, sukanya basa-basi doang. Begitu kira-kira stigma yang terlanjur beredar di masisir. Dari cerita pertama, ane menduga kalo orang mesir sama-sama punya persepsi tentang orang Indonesia. Nggak percaya? Kalo ada orang mesir tanya "enta min ein?" Coba jawab Malayzi atau Thailandy, tanggapan mereka bakal berbeda.

Sepertinya persepsi negatif inilah yang menyekat komunikasi antara kedua belah pihak. Memang nggak bisa dipukul rata semua masisir punya masalah komunikasi dengan orang mesir, begitu pula sebaliknya. Tapi stigma negatif ini mau tak mau punya andil dalam memperburuk sikap satu sama lain. Di jawazat misalnya, kita sudah tahu orang Mesir memang punya kekurangan, tapi ketidaksabaran akibat berdiri berjam-jam pula yang mendorong kita untuk teriak atau mengomel di belakang. Padahal yang seperti ini nggak bakal merubah kelakuan orang Mesir tersebut. Malah menyemai bibit dan memperkuat stigma negatif tersebut.

Sebenarnya kita butuh saling memahami, kemauan salah satu pihak untuk berjiwa besar membuka diri untuk berkomunikasi dengan orang lain. Karena kita semua sama, kollena insaan...