Nenek Berhati Emas

Apa yang mereka cari di atas panggung sana?
Mengapa mereka mencari itu?
Hingga kapan mereka mencari?
Apakah mereka mungkin mendapatkan apa yang mereka cari?
Benarkah pencarian mereka?
Apakah yang mereka cari benar-benar ada?


***

Mulanya aku tak memperhatikan, aku hanya menikmati [dan tak lebih] kicauan burung-burung di pagi hari. Burung-burung itu bersenandung di antara coklat gedung, bukan hijau dedaunan. Mereka menari dan bercengkerama di dinding yang berdebu, bukan ranting pepohonan. Ini Kairo kawan, bukan Bojonegoro.

Pagi itu, aku membuka jendela kamarku. Pandanganku tertuju pada burung-burung. Mereka berkejar-kejaran, menyanyi, meloncat-loncat. Tapi aku merasa ada yang ganjil. Burung-burung itu terlihat lebih suka berada di apartemen seberang, tepatnya di flat paling atas.

Tiba-tiba jendela flat itu terbuka. Seorang nenek menjulurkan tangannya. Menaburkan sekantong butiran putih di luar jendelanya. Aku tak tahu pasti apa itu, hanya saja dilihat dari bungkus yang dibawa sang nenek, sepertinya itu gula, tapi menjemur gula? untuk apa? atau kemungkinan lain, itu beras? tapi untuk apa menjemur beras? lagipula sang nenek menaburkan beras di atas dinding langsung, tanpa dialasi koran atau plastik.

Sejurus kemudian, sang nenek mengambil dua mangkok yang berada di luar jendela dan masuk ke dalam flatnya. Aku baru sadar kalau di luar jendelanya selalu tersedia dua mangkok putih, yang pasti bukan sesajen, tapi untuk apa?

Sang nenek kembali dan mengeluarkan dua mangkok itu. Sepertinya, sang nenek mengisinya dengan air. Cara meletakkannya cukup hati-hati. Jendela kemudian ditutup dan sang nenek tak muncul lagi.

Beras, dua mangkuk air?

Ya Allah, pantas saja burung-burung itu lebih sering hinggap di flat sang nenek, dan tidak jauh dari sana. Rupanya nenek tadi memberi mereka makan. Kairo yang tandus nan padat ini bukan memang bukan tempat yang nyaman untuk burung. Tapi di antara keserakahan dan ego manusia, masih ada secercah kebaikan yang dilambangkan oleh nenek berhati emas itu.

Aku menjadi penasaran dengan arti kicauan burung. Barangkali, burung-burung itu sedang berdoa untuk kebaikan sang nenek. Semoga Allah membalas amal kebaikanmu, nek...





2 comments:

Taufieq said...

Wahh keren abis sulll...

.....dan diantara secercah kebaikan sang nenek itu ada sebongkah hikmah yang kamu tiupkan lewat angin malam kairo yang mengalir lembut melewati per empatan sabi', memecah keheningan 'asir, menyusupi mata ku dan kemudian turun ke hati membuat hati ku berdesir tak karuan.....

Zzzzzz Zzzzz Zzzzzzzzzzzzzzzzztttt


nggapriel said...

hahah, syukron sul. komen pilihan minggu ini. jadi pengen minjem bahasanya aziz,

bidip bidiipppppppp

:D:D