Permainan Kekuasaan

"Kekuasaan cenderung bersifat korup,
dan kekuasaan yang absolut, mutlak bersifat korup.
Orang-orang besar nyaris selalu merupakan orang-orang jahat."
[Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.
Great men are almost always bad men.]
Lord Acton, 1834-1902.

Demikian protes Lord Acton, seorang sejarawan dan aktivis moral, terhadap kekuasaan mutlak yang dimiliki oleh Paus dan Raja. Kekuasaan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa keduanya [Paus dan Raja] tidak mungkin melakukan kesalahan. Sebaliknya, dalam protes yang disampaikan melalui surat tersebut ia tuliskan, jika pun harus berasumsi, keduanya harus dicurigai, dan kecurigaan itu bertambah seiring dengan bertambahnya kekuasaan.

Ia menulis, "I cannot accept your canon that we are to judge Pope and King unlike other men, with a favourable presumption that they did no wrong. If there is any presumption it is the other way, against the holders of power, increasing as the power increases."

Namun apakah perkataan Acton yang saya kutip di atas benar adanya?
Bukankah Acton telah terjebak pada asumsinya sendiri?

Kekuasaan pada dasarnya merupakan alat atau sarana. Sebagaimana pisau dapur, ia bisa menjadi baik apabila digunakan dengan baik, dan sebaliknya menjadi buruk apabila tidak digunakan untuk cara yang tidak dibenarkan oleh moral.

Dalam kutipan singkat di atas, agaknya Acton berasumsi bahwa manusia cenderung menggunakan kekuasaan dengan tidak bijak. Padahal, manusia itu sendiri memiliki dua kecenderungan, baik dan buruk. Maka yang seharusnya disorot adalah manusia itu sendiri, bukan kekuasaan.

Cukuplah seorang pemimpin yang mau mengakui kesalahan, lalu mencoba memperbaikinya. Ya, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Sikap ideal itu telah dicontohkan oleh sahabat Abu Bakar RA, seperti yang tercermin dari pidato yang ia sampaikan ketika diangkat menjadi khalifah:
"Saudara-saudara, aku diangkat menjadi pemimpin bukan karena akulah yang terbaik di antara kalian. Untuk itu jika aku berbuat baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, tegurlah aku. Sifat jujur adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah pengkhianatan. 'Orang lemah' di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. 'Orang kuat' di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku."

Namun sayangnya, tipe-tipe pemimpin seperti khulafaurrasyidin seolah punah. Agaknya, kerenggangan yang terjadi antara manusia modern dan nilai-nilai moral-spiritual ikut andil dalam membentuk fenomena ini. Intrik-intrik politik serta kebusukan manusia ditutup-tutupi di balik layar, sementara sang aktor melenggang di panggung, di bawah sorotan lampu dan gemuruh tepuk tangan. Kemunafikan yang telah menjadi kewajaran. Tak salah bila Acton kemudian menekankan pada nafsu dan kecenderungan buruk manusia.

***

Haruskah kita menunggu hingga datangnya al-Mahdi untuk menjumpai pemimpin yang ideal?





4 comments:

Alamin Rayyiis said...

dominasi keburukan dan kejahatan selalu menghasilkan kesimpulan yang pesimistis dalam memandang beberapa hal, termasuk kekuasaan.

mereka hampir2 tidak mempercayai lagi bahwa pisau dapur bisa buat memotong wortel hingga akhirnya dimasak dan diminum seperti wedang teh layaknya Angga mempraktekkannya.


nggapriel said...

wah, sampe bawa-bawa wedang wortel :P


Sinta Sing Lah Pissi said...

jadi kita hanya korban kekuasaan korup


Cintya Nak Jegeg said...

Mreka yg berkuasa selalu semena2 dan kita hanya bisa diam