Kesederhanaan Hemingway

Setelah berlarut-larut membaca dunia Murakami dengan segala keanehan dan kekosongannya, novel Hemingway yang berjudul Lelaki Tua dan Laut tampak lebih sederhana dan mudah dicerna. Tak ada lagi adegan yang memaksa imajinasi berhenti seperti kucing hidup yang dibelah dadanya lalu jantungnya dimakan selagi berdetak, atau bocah bernama gagak yang tak jelas apakah ia nyata atau sekedar bayangan.

Yang ada hanyalah seorang nelayan tua yang sedang memancing di laut. Ia berjuang untuk mendapatkan ikan pertamanya setelah delapan puluh tujuh hari berturut-turut pulang tanpa hasil. Orang-orang di desanya menganggapnya sebagai orang yang dikutuk dengan kesialan. Tak ada orang lain yang dikisahkan berdialog dengannya kecuali seorang anak muda yang selalu membantunya di daratan.

Deskripsi tentang sosok laki-laki tua membuka novel ini. Dialog dengan seorang anak muda lalu menyusul. Keduanya membicarakan ikan yang berhasil ditangkap, baseball, dan umpan untuk memancing. Semua terlihat biasa. Hingga keesokan harinya terjadi satu peristiwa yang membuat hari itu berbeda. Ada yang harus diperjuangkan mati-matian oleh sang nelayan tua.

Hemingway menggambarkan perjalanan sosok itu dengan jelas dan lugas. Kalimat-kalimat pendek menjadi tulang punggung cerita. Nyaris tak ada kalimat majemuk. Terjemahan Sapardi membuat narasi novel ini mengalir begitu saja. Sehingga novel setebal seratus halaman ini dapat dibaca tuntas hanya dalam dua kali duduk.

Namun kesederhanaan Hemingway amat berharga. Ia mendapatkan hadiah Pulitzer tahun 1953 berkat novel pendek ini. Gayanya minimalis tapi tetap mampu menyampaikan makna dengan cara yang memikat. Narasinya kuat dan padat. Pesannya pun dapat ditangkap dengan mudah.

Hanya saja saya merasakan ada yang ‘ganjil’ dengan kesederhanaan kata-kata dalam buku ini. Bukan dalam artian negatif. Berbeda. Itu saja. Apakah kesan itu bawaan dari tulisan Hemingway, atau karena penerjemahnya adalah seorang Sapardi? Entahlah…




***

“If a writer of prose knows enough of what he is writing about he may omit things that he knows and the reader, if the writer is writing truly enough, will have a feeling of those things as strongly as though the writer had stated them. The dignity of movement of an ice-berg is due to only one-eighth of it being above water. A writer who omits things because he does not know them only makes hollow places in his writing.” ~ Ernest Hemingway (1899-1961)